Posts

Showing posts from 2013

Membeku

Siapa bilang waktu cepat berlalu, Di sini,di tempatku berdiri, waktu membeku, dan mematikan.  Ia menawanku hingga tak mampu beranjak, Sekeras aku berontak, sekuat itu pula ia membelenggu tubuh dan jiwaku. Serupa tahanan, aku terpenjara, dalam ruang dan waktu yang tak berpihak padaku, Aku tak bisa pergi, padahal ingin rasanya aku terbang ke kuil Dante, Bertanya padanya bagaimana ia bertahan dari rasa sakit Bagaimana ia menyembunyikan rasa yang tak kunjung padam Di sini aku terpendam, adakah yang bisa menolongku keluar dari belenggu ini?  Mungkin pada Beatrice Portinari, aku bisa berkeluh  kesah tentang harapan yg palsu, Tentang janji yg tak digenapkan Atau setidaknya memberikan kekuatan untuk lepas dari cengkraman masa silam, Bukankah dia telah ditasbihkan sebagai pelindung bagi mereka yang terluka Bandung, November 13

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Sumpah, Cinta Mati dan Karma (Ketulusan Cinta Seorang Pria)

Image
Saya kelas satu SMP ketika roman percintaan yang mengharu biru ini saya baca. Saya, awalnya, nyaris tak mau menyentuh buku ini, pertama-tama dan terutama karena tebalnya minta ampun dan kedua karena saya sudah menduga duluan tidak ada yang istimewa dengannya. Tapi, saya salah sepenuh-penuhnya. Saya telah melanggar petuah lama: jangan menilai buku dari sampulnya. Saya menilai buku, dalam pengertian sesungguhnya, benar-benar dari tampak luarnya.  Nyatanya novel ini luar biasa dibandingkan prosa lain pada masa kejayaan Pujangga Baru. Begitu berkesannya, sampai-sampai bukan saja judulnya lengket luar biasa di kepala hingga sekarang, tapi juga nama-nama tokohnya terus melekat dalam ingatan. Harus ku akui, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck adalah satu dari sedikit roman jaman dulu yang terus membekas dalam memoriku. Ini mirip lagu-lagu lama yang tak lekang oleh waktu ditengah serbuan lagu “instan” yang mudah dihafal tapi semudah itu pula hilang dalam kenangan kita, hilang tak berbekas. ...

Eat, Gowes, Path (Catatan Perjalanan #7)

Image
Pernah suatu masa, dulu, dulu sekali, saya tidak terlalu suka Bandung.  Bukan saja karena jalan-jalan di kota ini seperti liliput, juga karena menuju Bandung adalah perjuangan yang melelahkan melewati jalanan macet di Puncak.   Tapi, ketidaksukaan saya itu bukannya berubah menjadi lebih baik setelah ada jalan tol Purbaleunyi , malah menjadi kebencian.  Awal tahun hingga pertengahan tahun ini, entah kenapa, saya membenci Bandung. Kota ini seperti mengintimidasi saya, setiap kali saya berkunjung pada masa-masa itu. Lalu, mendadak, saya jatuh cinta dengan kota ini. Sama ketika perasaan benci itu datang, perasaan suka saya juga muncul tiba-tiba. Merasuk begitu saja, tanpa ba bi bu, seperti turun dari langit.  Dan, jangan tanya kenapa, karena saya pun tak bisa menjelaskannya.  Cinta, kadang-kadang, tak perlu ada alasan, sama seperti kita mencintai seorang wanita yang, dalam beberapa hal,  bisa datang begitu saja tanpa kita tahu kenapa. Ini seperti campuran...

Rindu dan Luka

ijinkan aku mengenang saat pertama aku memandang matamu. Aku ingin merasakan kembali perasaan tak menentu itu. Biarkan aku hanyut dan melayang dalam fragmen indah saat memelukmu pertama kali, pada suatu malam yang terus menggangu tidurku hingga aku  lupa pada fakta bahwa kita tidak saja telah berjarak tapi juga saling menikam. Kenapa harus ada cinta bila ahirnya kita terluka? Hebatnya, kita membiarkan luka terus memerah, bernanah dan jadi borok, Kita seolah bersepakat untuk membiarkannya tak sembuh lalu menikmatinya setiap saat, seperti seorang masokis. Medan, Sept 2013

Persinggahan (Catatan Perjalanan #6)

Akhir-akhir ini, karena frekuensi keluar kota yang begitu tinggi, tiba-tiba saya menemukan diri saya sangat akrab dengan bandar udara. Nyaris setiap sudut di terminal Garuda di Bandara Soekarno Hatta lekat di memori saya, bahkan mungkin bau ruang tunggu yg tak terlalu harum di terminal 2F itu terus menempel di indra penciuman saya.  Dulu, saya tidak mengembangkan kebiasaan memperhatikan mereka yg lalu lalang di terminal penumpang, sebagian karena saya merasa tak ada hal istimewa, separuh lagi karena saya sibuk dengan pikiran sendiri. Kenapa pula saya harus tengak - tengok untuk sesuatu yg tak  menarik, sementara otak saya juga lagi malas memberin perintah untuk menyisihkan waktu memperhatikan sekeliling.  Ternyata, saya salah, sepenuhnya. Ada banyak hal menarik, bahkan lucu, yang terjadi di airport.  Perhatikanlah dengan seksama tingkah pola penumpang pesawat di ruang tunggu. Sebagian asyik dengan perangkat mobilenya, tak sedikit yang bengong, termenung, juga sedih. ...

Paradoks Cinta (Catatan Perjalanan #5)

Image
Apa yang membuat seseorang berubah? Adalah satu dari dua hal ini:  belajar banyak atau trauma yang dalam.  Belajar, tak diragukan lagi, membuat seseorang menimba banyak pengetahuan yang darinya membuat dia menjadi lebih pintar (berubah).  Akan halnya trauma, saya kira, adalah jalan tersingkat untuk berubah.  Terluka dalam, dapat membuat seseorang menjadi bukan dirinya lagi hanya dalam hitungan bulan, bahkan mungkin hari.  Luka, seperti halnya menangis yang tidak selalu dengan air mata, kadang kala tak disertai darah. Luka seperti ini sangat traumatis dan  memberi efek psikologis yang dahsyat.  Sebab iya terpendam jauh di dalam hati, seperti air yang terperangkap di telinga, sangat menggangu tapi tak kelihatan oleh orang lain. Kali ini saya akan menuliskan tentang luka yang dalam yang membuat seseorang berubah 180 derajat.  Ini ceritanya. Ketika saya ke Makassar tempo hari untuk urusan  kerja, saya, entah kenapa, tiba-tiba teringat...

Cinta di Simpang Jalan (Catatan Perjalanan #4)

Ke Makassar, bagi saya, bukan saja sekadar pulang kampung, lebih dari itu, semacam perjalan pulang kembali ke titik awal, untuk mengisi kembali baterai yang soak.  Semacan isi ulang listrik. Kok?  Iya, ada banyak hal yang dalam kehidupan sehari-hari saya agaknya sudah kadaluarsa yang setelah balik ke kampung bisa diperbaharui kembali.   Contoh sederhana:  Ketika saya membeli oleh-oleh di salah satu toko, penjualnya dengan antusias menjelaskan bahwa kue yang mau saya beli baru saja datang dan masih fresh.  Dengan refleks, seperti biasa kalau kita mendapatkan informasi, saya menjawab ini: ah..yang bener?  Kata – kata ini sangat lumrah kita dengar dan maksudnya memang setengah becanda, separuh lagi  iseng.  Tapi, saya kaget dengan reaksi penjualnya yang  benar-benar di luar dugaan saya. “Buat apa bohong Pak,” katanya dengan suaran tinggi dalam logat Bugis – Makassar yang kental,  “Berjualan itu modalnya  harus jujur, Pak. ...

Harajuku Style: Ekspresikan Gayamu (Catatan Perjalanan #3)

Image
Belumlah seseorang disebut pernah ke Tokyo apabila tidak mampir di Harajuku. Ya..setelah melihat dari dekat patung anjing Hachiko di Shibuya, saya memutuskan untuk ke Harajuku dengan berjalan kaki. Hari masih belum siang benar, matahari lagi malas bersinar dan suhu masih sekitar 12 derajat, sehingga masih cukup nyaman untuk berjalan kaki. Setelah sedikit kesasar dan menggunakan GPS (ganggu penduduk setempat) saya akhirnya sampai di Harajuku sekitar 20 menit setelah meninggalkan Shibuya.  Saya langsung menuju ke jalan yang menjadi pusat penjualan baju-baju bergaya Harajuku, tepat di depan stasiun kereta api Harajuku.  Belum terlalu ramai, selain karena hari masih agak pagi juga karena ini adalah hari kerja.   Jalan itu bernama Takeshita, sebenarnya mirip gang, karena tak terlalu lebar. Berada tepat di depan stasiun Harajuku. Di jalan itulah berdiri toko-toko yang menjual pakaian model Harajuku yang kondang di seantero bumi itu.  Jika kita datang pada hari Minggu, j...

Cinta Tanpa Reserve (Catatan Perjalanan #2)

Image
Tokyo akhir Oktober 2013. Suhu udara mulai turun menjadi 12 derajat Celcius. Ditengah jadwal yang ketat, saya harus memilih tempat manakah yang harus saya kunjungi di Tokyo dan sekitarnya.  Saya memutuskan untuk mengunjungi Shibuya dan Harajuku, dua kota yang lekat di kepala saya selama ini.  Yang disebut pertama karena kisah kesetiaan tanpa akhir seekor anjing dan cerita kesibukan salah satu persipanganannya yang paling ramai di dunia, sementara yang disebut terakhir adalah kisah tentang mode pakaiannya yang, dalam beberapa hal, lebih ditepat disebut sebagai pemberontakan. Dari Tokyo, saya menggunakan kereta api ke Shibuya di pagi hari yang sibuk dengan harapan bisa menyaksikan keramaiann persimpangan Shibuya yang terkenal itu yang berlokasi di dekat stasiun kereta api Shibuya, tapi apa daya saya sampai di sana pukul 9 lewat dimana orang – orang yang menyeberangi persimpangan empat itu sudah berkurang. Jelas saya kecewa. Saya pun memusatkan perhatian pada patung seekor a...

Cinta Dalam Botol (Catatan Perjalanan #1)

Image
(sebuah produk selai kacang yang dipajang di satu toko di Seminyak, Bali, yang ingredients-nya CINTA) Beberapa bulan terakhir ini saya banyak melakukan perjalanan keluar kota. Dalam satu minggu, saya bisa bepergian dua atau tiga kali.  Opss... jangan salah sangka dulu, perjalan saya itu semata-mata karena pekerjaan, bukan untuk liburan.  Di setiap tempat yang saya kunjungi, saya selalu mendapat pengalaman baru, entah itu kulimernya, tempat pelancongannya, atau kearifan masa lalu penduduk setempat. Saya akan menuliskan pengalaman saya bepergian itu secara berseri mulai dari tulisan ini. Kita mulai dari Bali. Sebenarnya nyaris tak ada lagi hal baru yang bisa ditulis tentang Bali. Apa saja tentang pulai ini sudah habis diulas. Karena itu saya tak ingin mengulang ulang semua itu yang bisa membuat saya tampak bodoh.   Saya akan menulis tentang satu toko yang menjual makanan organik di Seminyak. Jangan membayangkan toko ini besar dan mewah. Ini toko yang ke...
Namanya lupa, ya..nggak ingat. Dan kelihatannya ingatan saya ini lebih fana dibandingkan hidup di dunia. Jadi mohon maaf, jika puisi kolega saya ini, Inay Maryam, yang harusnya saya posting tepat pada hari Puisi Indonesia, 26 Juli, baru saya turunkan hari ini. Late post :) Inay Maryam mengirimkan sejumlah puisi, dan ini beberapa diantaranya Dealova Aku terguncang, sayang Waktu ternyata tak mampu mengubahku Rinduku padamu tak mau beringsut Engkau mengendap dalam darahku Seperti candu Bukan setengah, tapi seluruh hatiku teracuni Aku terguncang, sayang Kenangan bersamamu tak pernah benar-benar pergi Dia hanya memudar atau mungkin juga tengah dorman Apa dayaku Engkau bukan lagi yang dulu Tanganmu sudah terikat Bahkan ketika air mataku belum lagi kering Takdirku serupa Sisifus yang malang Jadi biarlah kutahankan semua in Aku tak ingin lagi menangis Bukan karena tak ada air mata Melainkan karena aku sudah lupa bagaimana menagis untukmu Inay Maryam Bogor, Juli 13 ...

Instan

Bulan Juni belum berlalu Engkau sudah berlabuh Tertambat begitu lekas Bahkan air mataku belum lagi kering Engkau sudah berpaling Seinstans itukah? Bogor

Just Give Me a Reason yang Mengganggu Saya

Lama-lama saya terganggu (dalam pengertian yang harafiah dan kiasan) dengan lagu just give me a reason. Sekian minggu terakhir ini lagu ini mengepung hari-hari saya. Dari saya bangun tidur hingga mau tidur lagi, lagu ini terus mengusik telinga. Tidak di radio, pun tidak di Path, juga di mal, lagu ini mengudara terus. Apa yang awalnya saya tak peduli, akhirnya, itu tadi tergangngu, lalu didorong rasa rasa penasaran, saya pun terpaksa menyimak baik-baik setiap lagu ini ada di radio. Hmm..pop-rocknya oke, itu penilain saya sebagai konsumen musik, bukan sebagai ahli. Tidak berhenti di situ. Saya pun bertanya kepada Pak Google siapa gerangan penyanyi yang tipe suaranya tak khas-khas benget  itu dan seberapa dahsyat liriknya serta masuk peringkat berapa dia di tangga-tangga lagu dunia? Oh..ternyata artisnya adalah Alecia Beth Moor yang dikenal dengan nama panggung: Pink. Lagu ini masuk dalam sepuluh teratas tangga lagu di banyak negara dan terus bertahan di sana dalam beberapa...

Ka..Bandung? 'Mbung'

Image
Kok bisa ya..ke Bandung sama dua orang ini Saya tak pernah benar-benar suka Bandung. Terutama karena jalan-jalannya yang ribet dan rumit, serupa liliput. Bikin pendatang seperti saya selalu tersesat . Memaksa kita menggunakan GPS (ganggu penduduk setempat  J ).  Tidak itu saja. Lalu lintasnya macet, nyaris sama dengan Jakarta, kalau tidak lebih parah. Terlebih jika akhir pekan atau tanggal merah. Ampun...Saya tak pernah memasukkan Bandung sebagai tujuan wisata saya jika musiam libur tiba atau cuti bersama. Makanya saya tak habis pikir apa yang membuat kota ini selalu dirindukan?  Meski bersusah-susah, toh...orang -orang dari segala penjuru tetap berbondong-bondong  ke kota yang dulu disebut Paris Van Java (saya kira kota ini sekarang sudah tak layak disebut begitu).  tersesat di PVJ bersama lelaki ini..betapa menyedihkannya :) Seperti Jakarta, kota Bandung ibarat lampu yang menjerat laron, sebagian diantaranya tersengat, sebagian lagi menikmat...

China Yang Makin Mengancam

Pekan pertama Juni 2013, sebuah pertemuan bernuansa informal di gelar di Amerika antara Presiden China Xi Jinpin dengan Presiden Amerika Obama ditengah-tengah kekhawatiran Paman Sam akan pencurian teknologi militer mereka oleh para peretas handal China yang konon berbasis di Shanghai yang didukung penuh oleh tentara China. Berita ini sontak mengingatkan saya pada kunjungan saya ke negara komunis itu lima belas tahun silam. Saat itu, saya adalah satu-satunya wartawan Indonesia yang terpilih oleh Kementerian Luar Negeri bersama jurnalis lainya dari negara-negara Asia, mengikuti perayaan hari ulang tahun Partai Komunis China. Saya berdiri di Lapangan Tiananmen dengan perasaan berdecak menyaksikan teriakan “hidup China” dari jutaan pengunjung yang mengikuti pawai persenjaatan sore menjalang malam di lapangan Tiananmen yang bersejarah itu saat rudal balistik dan persenjataan super canggih melintas di depan mereka. Berada di antara kerumunan warga Cina, di hari yang bersejarah itu...

Lelaki Yang Terluka

Pengantar: Kolega saya, mengirimkan tulisannya, sebagian puisi dan prosa yang dia kumpulkan dalam buku berjudul: Hilangnya Bintang Paling Terang. Saya posting sebagian. Selamat membaca Lelaki itu terbakar amarah Dadanya penuh luka  Perpaduan yang mematikan bagi seorang yang tersakiti Tangannya mengepal Matanya merah Nafasnya satu – satu Sudah sekian purnama ini amarahnya tertahan Seperti gunung api yang siap menyemburkan awan panas Dengan semua angkara yang siap meledak Lelaki terluka itu masuk ke bar di sebuah tempat yang sering disebut PVJ Mengambil kursi persis menghadap pintu masuk Lagu trance membahana Tak mampu mendinginkan hatinya yang mendidih Lagu itu terdengar seperti raungan anjing hutan yang siap menerkam Tekadnya sudah bulat Ia harus membalas dengan setimpal Sikapnya yang mengalah justru membuatnya dihina dina “Orang ini tak pantas dikasihani,” ia berkata pada dirinya Malam makin tua Lampu-lampu dipadamkan Orang –...

Harga Sebuah Keragu-raguan

Hari-hari ini kita disuguhkan dengan sempurna tentang sikap ragu yang harus dibayar dengan harga super mahal. Perhatikanlah, rencana kenaikan harga bahan bakar minyak bersubsidi yang sudah diperbincangkan berbulan-bulan tanpa tak ada keputusan. Rencana itu tidak jalan, rencana ini tidak diterima, formula itu ditentang, formula ini tidak masuk akal. Pada saat semua diskusi itu berjalan, harga-harga sudah bergerak naik dan penimpubanan bahan bakar minya (BBM) merajalela. Dari harga sayur mayur hingga harga keju, dari harga cabe hingga terigu, dari harga gula sampai harga gas semua merangkak naik. Bagi mereka yang tidak pernah ke dapur, pasti tak bisa merasakan bagaimana pusingnya menghadapi kenaikan harga ini. Tapi cobalah tanya ibu-ibu yang setiap hari tercekik karena harga yang tak stabil. Hingga menjelang bulan puasa (awal Juli), keputusan kapan harga BBM dinaikan belum kunjung pasti juga. Padahal faktor waktu dalam soal ini amat menentukan. Jika dinaikkan pada awal bulan puasa, ...

Elegi Nomer 18A

Pengantar: Kolega saya, mengirimkan tulisan-tulisannya, sebagian besar mengenai puisi dan prosa, yang dia kumpulkan dalam satu buku berjudul: Hilangnya Bintang Paling Terang. Akan saya posting sebagian mulai hari ini. Selamat membaca.   Elegi Nomer 18A Di kamar ini dulu aku menjagamu dengan setia Saat kamu terbaring tak berdaya Memelukmu dengan cinta agar lelahmu hilang Membiarkan bahumu menyandar agar kamu terlindungi Membagi penat agar kamu kembali pulih Mencium keningmu agar semangatmu bangkit lagi Mendengar keluh kesahmu agar bebanmu meringan Kini, engkau menghilang Tanpa perpisahan Tapi ijinkan aku menulis puisi ini Bacalah saat kamu lelah menjalani hidup Saat kamu merasakan sepinya sepi Mungkin tak banyak menolong Tapi ingatlah masih ada aku yang berdoa untukmu By:Inay Maryam, Jakarta, Feb 13

Xoxo

Aku ingin berbaring Di sampingmu, sayang Di ranjangmu yang hangat  Di bawah selimutmu yang biru Di kamarmu yang penuh kenangan Tempat kita selalu menghabiskan malam Bertukar cerita tentang politik yang makin edan atau sekadar bercanda Bukan..Bukan, sayang Sama sekali bukan untuk bercinta Aku hanya ingin dekat denganmu Melingkarkan tangan di dadamu Memelukmu erat – erat Biar ku rasakan nadimu yang mengalirkan cinta Hingga aku terlelap Lalu bermimpi tentang rumah mungil Jakarta, Februari 13