Namanya lupa, ya..nggak ingat. Dan kelihatannya ingatan saya ini lebih fana dibandingkan hidup di dunia. Jadi mohon maaf, jika puisi kolega saya ini, Inay Maryam, yang harusnya saya posting tepat pada hari Puisi Indonesia, 26 Juli, baru saya turunkan hari ini. Late post :) Inay Maryam mengirimkan sejumlah puisi, dan ini beberapa diantaranya
Dealova
Aku terguncang, sayang
Waktu ternyata tak mampu mengubahku
Rinduku padamu tak mau beringsut
Engkau mengendap dalam darahku
Seperti candu
Bukan setengah, tapi seluruh hatiku teracuni
Aku terguncang, sayang
Kenangan bersamamu tak pernah benar-benar pergi
Dia hanya memudar atau mungkin juga tengah dorman
Apa dayaku
Engkau bukan lagi yang dulu
Tanganmu sudah terikat
Bahkan ketika air mataku belum lagi kering
Takdirku serupa Sisifus yang malang
Jadi biarlah kutahankan semua in
Aku tak ingin lagi menangis
Bukan karena tak ada air mata
Melainkan karena aku sudah lupa bagaimana menagis untukmu
Inay Maryam
Bogor, Juli 13
Completely Naive By The Way
Kita selalu berjumpa
Setiap hari
Tapi kamu tak pernah mengenalku
Kamu bahkan tak pernah tahu akau tidur di ranjangmu
atau mungkin juga kamu tak peduli
Sebab bagimu, aku tak lebih dari sebuah nama
Yang kamu panggil hanya jika kamu butuh
Setelah itu kamu buang ke selokan
Tak sedikitpun kamu berhasrat membangun rumah mungil
Dari semula kamu hanya berpetualang
yang kamu bungkus dengan sopan santun yang menipu
Ketika aku jatuh pada suatu malam yang gelisah
Kamu berpura-pura memberika bahumu
Ibarat candu kamu membuatku ketagihan
Tahukah kamu kekejaman apa yang paling bengis?
Adalah ketika kamu memalsukan keikhlasan
dalam permainan cintamu yang menggoda
Inay Maryam
Jakarta, Pertengahan Ramadhan, 2013
Dealova
Aku terguncang, sayang
Waktu ternyata tak mampu mengubahku
Rinduku padamu tak mau beringsut
Engkau mengendap dalam darahku
Seperti candu
Bukan setengah, tapi seluruh hatiku teracuni
Aku terguncang, sayang
Kenangan bersamamu tak pernah benar-benar pergi
Dia hanya memudar atau mungkin juga tengah dorman
Apa dayaku
Engkau bukan lagi yang dulu
Tanganmu sudah terikat
Bahkan ketika air mataku belum lagi kering
Takdirku serupa Sisifus yang malang
Jadi biarlah kutahankan semua in
Aku tak ingin lagi menangis
Bukan karena tak ada air mata
Melainkan karena aku sudah lupa bagaimana menagis untukmu
Inay Maryam
Bogor, Juli 13
Completely Naive By The Way
Kita selalu berjumpa
Setiap hari
Tapi kamu tak pernah mengenalku
Kamu bahkan tak pernah tahu akau tidur di ranjangmu
atau mungkin juga kamu tak peduli
Sebab bagimu, aku tak lebih dari sebuah nama
Yang kamu panggil hanya jika kamu butuh
Setelah itu kamu buang ke selokan
Tak sedikitpun kamu berhasrat membangun rumah mungil
Dari semula kamu hanya berpetualang
yang kamu bungkus dengan sopan santun yang menipu
Ketika aku jatuh pada suatu malam yang gelisah
Kamu berpura-pura memberika bahumu
Ibarat candu kamu membuatku ketagihan
Tahukah kamu kekejaman apa yang paling bengis?
Adalah ketika kamu memalsukan keikhlasan
dalam permainan cintamu yang menggoda
Inay Maryam
Jakarta, Pertengahan Ramadhan, 2013
Comments
Post a Comment