Ka..Bandung? 'Mbung'
| Kok bisa ya..ke Bandung sama dua orang ini |
Saya tak pernah benar-benar suka Bandung. Terutama karena jalan-jalannya yang ribet dan rumit, serupa liliput. Bikin pendatang seperti saya selalu tersesat . Memaksa kita menggunakan GPS (ganggu penduduk setempat J). Tidak itu saja. Lalu lintasnya macet, nyaris sama dengan Jakarta, kalau tidak lebih parah. Terlebih jika akhir pekan atau tanggal merah. Ampun...Saya tak pernah memasukkan Bandung sebagai tujuan wisata saya jika musiam libur tiba atau cuti bersama. Makanya saya tak habis pikir apa yang membuat kota ini selalu dirindukan? Meski bersusah-susah, toh...orang -orang dari segala penjuru tetap berbondong-bondong ke kota yang dulu disebut Paris Van Java (saya kira kota ini sekarang sudah tak layak disebut begitu).
![]() |
| tersesat di PVJ bersama lelaki ini..betapa menyedihkannya :) |
Seperti
Jakarta, kota Bandung ibarat lampu yang menjerat laron, sebagian diantaranya
tersengat, sebagian lagi menikmati. Maksud saya, sebagian orang yang datang ke
Bandung untuk tujuan kerja tidak semua beruntung. Saya bertemu dengan banyak
orang dari daerah-daerah di seputar Bandung, katakanlah, Cianjur, Sukabumi,
Kuningan, Tasik dan banyak lagi. Mereka-mereka ini adalah laron yang, mungkin, sengaja
memilih Bandung atau memang tak mampu menghadapi sinar lampu neon Jakarta. Tidak
semuanya bisa menikmati cahaya. Anda pasti tahu maksud saya.
Kata
mereka, kota ini membuat kita jatuh cinta berkali-kali. Setiap sudutnya menawarkan
romantisme. Gadis-gadisnya molek. Jika Anda bertemu dengan tiga wanita Bandung,
empat diantaranya pasti cantik (bayang-bayangnya pun manis). Dalam perkara ini,
saya kira mereka tidak sepenuhnya benar. Sebab, seperti kata yang lain, sebagian
besar mojang Bandung yang berkelas sudah hijrah ke Jakarta. Dan, saya setuju dengan
pendapat ini. J
Setelah
terbilang tahun saya tak ke Bandung, akhir April hingga awal Mei saya dan dua
kawan ke kota ini untuk tujuan yang, bisa dibilang, setengah bisnis dan
setengah kesenangan. Sepekan di Bandung,
selain selalu tersesat dan harus menggunakan co-driver, saya merasa ada kenangan yang diam-diam merasuk ke kepala saya, semacam de javu dalam pengertian yang luas, padahal saya tak memiliki
kenangan apapun di kota ini, kecuali saat mahasiswa, saya sering bolak balik
Bogor-Bandung untuk training kepemimpinan atau sekadar berdiskusi dengan teman
mahasiswa Bandung.
Saya
merasa, kota ini mengintimidasi. Entah kenapa. “Mungkin harus sering-sering ke Bandung, “
saran kawan saya. “Aing mah teu hayang. Mbung.” Hilton,
Bandung, April 13

Comments
Post a Comment