Cinta Tanpa Reserve (Catatan Perjalanan #2)

Tokyo akhir Oktober 2013. Suhu udara mulai turun menjadi 12 derajat Celcius. Ditengah jadwal yang ketat, saya harus memilih tempat manakah yang harus saya kunjungi di Tokyo dan sekitarnya.  Saya memutuskan untuk mengunjungi Shibuya dan Harajuku, dua kota yang lekat di kepala saya selama ini.  Yang disebut pertama karena kisah kesetiaan tanpa akhir seekor anjing dan cerita kesibukan salah satu persipanganannya yang paling ramai di dunia, sementara yang disebut terakhir adalah kisah tentang mode pakaiannya yang, dalam beberapa hal, lebih ditepat disebut sebagai pemberontakan.
Dari Tokyo, saya menggunakan kereta api ke Shibuya di pagi hari yang sibuk dengan harapan bisa menyaksikan keramaiann persimpangan Shibuya yang terkenal itu yang berlokasi di dekat stasiun kereta api Shibuya, tapi apa daya saya sampai di sana pukul 9 lewat dimana orang – orang yang menyeberangi persimpangan empat itu sudah berkurang. Jelas saya kecewa.
Saya pun memusatkan perhatian pada patung seekor anjing yang dipajang di taman di dekat stasiun itu. Itulah patung anjing Hachiko yang kesohor itu. Kisah anjing ini menginispirasi banyak hal: dua film (Jepang dan Hollywood), pelajaran tentang budi perketi, dan tentu saja cinta dan kesetiannya tanpa reserve.
Tersebutlah seorang profesor bernama Ueno, sekitar tahun 1920-an, memelihara seekor anjing yang diberi nama Hachi. Setiap pagi ketika Prof Ueno berangkat mengajar, Hachi selalu mengantarnya hingga ke stasiun kereta Shibuya. Sore hari ketika tuannya pulang, Hachi pun menjemputnya di tempat yang sama. Rutinintas Hachi itu dilakukannya setiap pagi dan sore, hingga suatu hari, 21 Mei 1925, dia menemukan sesuatu yang aneh di stasiun kereta api Shibuya. Hingga penumpang terakhir turun dari kereta, dia tak menjumpai tuannya. Meski begitu, dia tetap menunggu di stasiun itu dan memilih untuk tidak makan demi tak mau kehilangan momen kepulangan tuannya yang dia cintai.  Prof Ueno ternyata meninggal saat bekerja di kantornya dan jenasanya langsung di kuburkan di kampungnya tanpa melewati stasiun Shibuya.
(Patung anjing Hachiko di depan stasiun kereta api Shibuya yang fotonya saya ambil ketika mengunjungi kota ini di pagi hari)

Sang anjing yang kemudian diambil oleh kerabat sang profesor, ternyata selalu mendatangi stasiun setia sore, sekitar pukul 3, untuk menjemput majikannya. Hal itu dia lakukan terus menerus setiap hari (dalam satu versi anjing ini terus menunggu di stasiun itu hingga dia meninggal, tujuh tahun setelah kematian tuannya). Kelakuan anjing ini menarik perhatian penumpang kereta yang turun di Shibuya. Kata ko (artinya sayang) pun ditambahkan dibelakang namanya menjadi Hachiko. Kesetiaan Hachiko ini dengan cepat tersebar diantara penumpang kereta api dan ketika dia meninggal,  seorang pematung pun mengabdikannya dalam bentuk patung.  

Apakah pelajaran yang bisa dipetik dari Hachiko?  Anjing ini mengajarkan satu hal: cinta dan kesetiaan harusnya tanpa reserve. Tanpa syarat. Dan, ketika seseorang mengatakan ini: aku mencintaimu, harusnya hal itu bisa dilihat dalam kehidupan sehari-hari. Dalam cinta, hanya ada satu aturan: buktikan. Dan, Hachiko dengan kasat mata membuktikannya kepada manusia dan karena itu kesetiaan anjing ini sebenarnya bisa juga ditafsirkan sebagai ejekan bagi mereka yang tak berhasil menggenapkan janjinya.  Kata-kata yang tak diwujudkan dengan cepat akan menjadi bumerang. (***)

Comments

Popular posts from this blog

Perjalanan Ini (1)

Puisi Cinta Sastrawan Besar

Berdusta Dengan Statistik