Eat, Gowes, Path (Catatan Perjalanan #7)
Pernah suatu
masa, dulu, dulu sekali, saya tidak terlalu suka Bandung. Bukan saja karena jalan-jalan di kota ini
seperti liliput, juga karena menuju Bandung adalah perjuangan yang melelahkan
melewati jalanan macet di Puncak. Tapi, ketidaksukaan saya itu bukannya berubah
menjadi lebih baik setelah ada jalan tol Purbaleunyi , malah menjadi
kebencian. Awal tahun hingga pertengahan
tahun ini, entah kenapa, saya membenci Bandung. Kota ini seperti mengintimidasi
saya, setiap kali saya berkunjung pada masa-masa itu. Lalu, mendadak, saya jatuh
cinta dengan kota ini. Sama ketika perasaan benci itu datang, perasaan suka saya
juga muncul tiba-tiba. Merasuk begitu saja, tanpa ba bi bu, seperti turun dari langit. Dan, jangan tanya kenapa, karena saya pun tak
bisa menjelaskannya. Cinta, kadang-kadang, tak perlu ada alasan, sama seperti kita mencintai seorang wanita yang, dalam beberapa hal, bisa datang begitu saja tanpa kita tahu kenapa. Ini seperti campuran kimiawi antara pandangan (indrawi), kebiasaan, dan, tentu saja, perasaan yang sulit dijelaskan oleh akal sehat.
Dulu, setiap kali
saya harus ke Bandung untuk urusan kerjaan yang belakangan ini sangat sering,
saya pasti bersungut-sungut, namun belakangan ini, saya bahkan selalu
mengharapkan ada acara kantor di Bandung. Doa saya, bisa dibilang, terkabul, karena
frekueansi ke Bandung saya lebih sering.
Satu hal yang
bisa saya jelaskan kenapa saya suka Bandung adalah karena saya bisa membawa
sepeda dari Jakarta dan mengayuhnya setiap pagi. Jalurnya, jalur yang oleh sebagian besar
goweser sangat menantang: ke warung bandrek di Dago Pakar. Jalur ini, sejujurnya, memiliki dua tantangan:
pertama dan terutama kemiringanya, naujubillah, bisa dibilang ini adalah
tanjakan yang, bila kita tak kuat, bisa membikin kita putus asa. Kedua, jalan di bagian terakhir dari tanjakannya
itu berbatu-batu. Anda harus membagi
kekuatan untuk menggenjot dan pada saat yang sama menahan agar sepeda tidak
terangkat ke belakang. Sekarang ini, jika saya ke Bandung, saya selalu menikmati kulinernya, gowes, dan
setelah itu narsis di Path.
Pada kunjungan
saya yang terakhir, ini yang membuat saya juga senang, saya bertemu dengan
kawan lama. Seorang wanita yang, saya harus akui, luar biasa ulet. Namanya:
Rita Astrilita. Dia memilih untuk menekuni bisnis multi level marketing ketika
sebagian besar orang, tak terkecuali saya, justru meragukan kehandalan bisnis ini. Ketika
saya bertanya kenapa dia memilih MLM dan tidak mencoba peruntungan di Jakarta
sebagai karyawan, Rita dengan tangkas menangkis serangan saya.
Saya: MLM? (nada
saya sebenarnya cukup netral untuk tidak terlihat meragukakan bisnis ini, tapi Rita langsung tanggap bahwa saya sebenarnya ragu)
Rita: Ini beda.
MLM yang tak merugikan dan tak menipu.
Tanpa saya minta,
kawan saya ini langsung menjelaskan panjang lebar sistem MLM yang dia terjuni.
Saya tidak terlalu mengerti bagaimana bisnis ini berkerja, tapi setelah sering
berdiskusi dengan kawan saya ini, saya sedikit paham. Dan, saya pun ikut
membeli produknya: Biyang dan Propolis yang, menurut saya, memang bagus. Hingga
sekarang saya saya sudah dua kali memesan dan terus memakainya.
Tapi bukan bisnis
MLM ini danproduknya yang ingin saya bagi, melainkan ketekunan kawan saya ini
yang ingin saya ceritakan. Ketika saya
bertemua denganya di Bandung, beberapa waktu lalu, dia dengan penuh semangat
menceritakan bagaimana dia sudah memiliki jaringan hingga ke Lampung.
Kawan-kawannya pun tersebar hingga ke Makassar, suatu hal yang dia akui tidak
akan pernah terjadi jika ia memilih bekerja kantoran. Dan, dia bersyukur sekali
dengan keberhasilannya itu yang mungkin saja bagi sebagian besar orang bukan
apa-apa. Saya berdoa, semoga dia berhasil.
Kawan saya ini mengajarkan satu hal yang
selama ini luput dari perhatian saya: aset terbesar dari hidup kita
adalah jaringan perkawanan (MLM bertumpu pada jaringan orang yang berkawan satu
sama lain).

Comments
Post a Comment