China Yang Makin Mengancam
Pekan
pertama Juni 2013, sebuah pertemuan bernuansa informal di gelar di Amerika
antara Presiden China Xi Jinpin dengan Presiden Amerika Obama ditengah-tengah
kekhawatiran Paman Sam akan pencurian teknologi militer mereka oleh para
peretas handal China yang konon berbasis di Shanghai yang didukung penuh oleh
tentara China.
Berita ini
sontak mengingatkan saya pada kunjungan saya ke negara komunis itu lima belas
tahun silam. Saat itu, saya adalah satu-satunya wartawan Indonesia yang terpilih
oleh Kementerian Luar Negeri bersama jurnalis lainya dari negara-negara Asia,
mengikuti perayaan hari ulang tahun Partai Komunis China.
Saya berdiri
di Lapangan Tiananmen dengan perasaan berdecak menyaksikan teriakan “hidup
China” dari jutaan pengunjung yang mengikuti pawai persenjaatan sore menjalang
malam di lapangan Tiananmen yang bersejarah itu saat rudal balistik dan
persenjataan super canggih melintas di depan mereka. Berada di antara kerumunan
warga Cina, di hari yang bersejarah itu, saya tak kuasa menahan kagum melihat
semua keperkasaan itu.
Otot militer
China yang seperti baja itu, tadinya dugaan saya, akan mengubah peta
politik dunia. Tapi ternyata saya tak sepenuhnya benar. Karena bukan faktor
militer semata yang membuat China diperhitungkan, melainkan juga karena ekonomi
dan penguasaan teknologi tingginya. China saat ini
menduduki peringkat dua dalam soal keperkasaan ekonomi setelah menyalip Jepang,
dua tahun lalu.
Sebuah
survei global yang dibuat dua tahun lalu menemukan bahwa masyarakat barat sangat
khawatir dengan kemajuan ekonomi dan teknologi China. Mereka takut
produk-produk China akan membanjiri pasar negara-negara maju. Kehkawatiran ini
sangat beralasan mengingat serbuan produk China ke pasar yang tak ada
tandingannya.
Seorang
intelektual Inggris yang mengajar di sekolah bergengsi negara itu, London
School of Economic, bernama Martin Jacques menulis dalam bukunya ; When China
Rules The World, memperkirakan China akan menjadi terkuat di dunia menggantikan
Amerika sekitar sepuluh hingga lima belas tahun mendatang. Kini, bahasa China,
perlaahan tapi pasti, akan menggerser bahasa Inggris sebagai lingua franca,
bahasa pergaulan dunia.
Datang ke Beijing dengan pemahaman bahwa negara ini masih
jauh dari keperkasaan ekonomi, dengan perasaan penuh takjub, saya menikmati tur
ke sejumlah perusahaan dan industri yang dengan gagahnya mempertontonkan kepada
kami pencapaian teknologi dan penguasaan pasar mereka.
Lima belas tahun lewat, dunia dibuat tercengang dengan
kesuksesan negara ini mengirim misi berawak ke luar angkasa dan berhasil ke
luar dari peswat untuk berjalan-jalan di antariksa. Ini langsung membuat
China naik kelas ke deretan negara yang menguasai teknologi tinggi, yang jumlahnya
memang sedikit. Peta politik dunia benar-benar telah berubah. Soviet runtuh,
Cina menggantikan, meski dengan idiologi komunis yang telah bergeser ke kanan.
Dari kepentingan perdamaian, dunia membutuhkan Cina yang kuat untuk menjamin
perimbangan kekuatan. Sudah terlalu lama Amerika mengusai dunia tanpa
penghalang.
Tapi, Cina rupanya terlalu bernafsu. Begitu inginnya
mereka muncul sebagai kekuatan yang diperhitungkan, terutama dalam bidang
ekonomi, apapun dilakukannya. Tak peduli melanggar hukum atau membahayakan
kesehatan manusia, asal bisa menguasai pasar, apapun dilakukan. Maka, keluarlah
susu yang dicampur dengan zat kimia bernama melamin. Zat ini akan mengelabui
tes sehingga kandungan protein produk terlihat tinggi.
Benar kata Napoleon, ‘’Biarkan China tidur nyenyak, kalau
bangun dunia akan dibikin repot.’’ Pernyataan ini bisa ditafsirkan ganda.
Dalam arti sesungguhnya, dunia kini, terutama Amerika, akan kerepotan
jika kekuatan militer dan teknologi canggih China bangkit. Dalam arti yang
lain, dunia juga dibuat susah karena kebangkitan China membawa kesusahan para
konsumen dunia. Dan, ini bukan kali pertama produk Cina bermasalah.
Mungkin beginilah jadinya kalau jalan ideologi yang ditempuh
abu-abu. Percampuran aneh antara komunisme dan kapitalime menghasilkan senyawa
yang tidak jelas bentuk dan sifatnya. (***)
Comments
Post a Comment