Cinta di Simpang Jalan (Catatan Perjalanan #4)


Ke Makassar, bagi saya, bukan saja sekadar pulang kampung, lebih dari itu, semacam perjalan pulang kembali ke titik awal, untuk mengisi kembali baterai yang soak.  Semacan isi ulang listrik. Kok?  Iya, ada banyak hal yang dalam kehidupan sehari-hari saya agaknya sudah kadaluarsa yang setelah balik ke kampung bisa diperbaharui kembali.   Contoh sederhana:  Ketika saya membeli oleh-oleh di salah satu toko, penjualnya dengan antusias menjelaskan bahwa kue yang mau saya beli baru saja datang dan masih fresh.  Dengan refleks, seperti biasa kalau kita mendapatkan informasi, saya menjawab ini: ah..yang bener?  Kata – kata ini sangat lumrah kita dengar dan maksudnya memang setengah becanda, separuh lagi  iseng.  Tapi, saya kaget dengan reaksi penjualnya yang  benar-benar di luar dugaan saya.
“Buat apa bohong Pak,” katanya dengan suaran tinggi dalam logat Bugis – Makassar yang kental, 
“Berjualan itu modalnya  harus jujur, Pak.  Tidak perlu untung banyak, asal berkah.”
Saya tersentak. Nyaris kehilangan kata-kata.   Bukan saja oleh nada dan reaksinya yang keras juga karena apa yang dia katakan sudah lama tak menjadi perhatian saya.  Itulah saya maksud dengan mengisi baterai lagi.  Pada kunjungan yang lain ke kota Angin Mamiri ini, saya dikejutkanlagi oleh peristiwa ini. Ketika berhenti di perempatan jalan, tiba-tiba, entah datang dari mana, seorang ibu tua mengetuk kaca mobil yang saya tumpangi.  Kaget dan tak sempat berpikir, saya lalu memberi  isyarat agar ibu tua itu pergi.  Tapi, dia membalasnya dengan mengeluarkan tissue kecil dari tas bututnya lalu mengatakan sesuatu yang tak mampu saya dengar. Tapi saya paham, dia menjual tissue.
Saya pun membuka kaca dan bertanya berapa harganya.  
“Sepuluh ribu, tiga,” jawabnya.  
“Saya beli sepuluh ribu,” ujarku seraya memberikan uang dua puluh ribu rupiah.
“Kembaliannya diambil saja.”
Mobil saya pun berjalan, tapi tanpa dinyana, sang ibu yang saya taksir berumur di atas 60-an itu berlari-lari di samping mobil saya sembari melambaikan uang  sepuluh ribu.
Takut terjadi apa-apa, saya meminta mobil dipinggirkan setelah melewati persimpangan lampu merah tadi.  Sang ibu, dengan nafas satu-satu, menghampiri saya dan berkata:
“Ini kembaliannya.
“Itu untuk Ibu.”
“Tidak. Saya berjualan bukan meminta-minta.”
Sang ibu lalu meletak uang sepulur ribu itu di dashboard mobil dan hilang ditelan keramaian kota Makassar tanpa menunggu reakasi saya yang masih terkesima. 

Saya seperti ditampar berkali-kali.  Ibu ini mempertaruhkan nyawanya  di tengah lalu lintas yang padat untuk mengembalikan uang saya yang tak seberapa itu, hanya karena dia menganggap dia tak pantas dikasihani.  Ternyata di jalan-jalan yang keras itu ada banyak pelajaran tentang keikhlasan, ketulusan, dan juga cinta.  Saya pun kembali ke Jakarta dengan posisi baterai yang penuh seperti habis diisi listriknya. 

Comments

Popular posts from this blog

Perjalanan Ini (1)

Puisi Cinta Sastrawan Besar

Berdusta Dengan Statistik