Harajuku Style: Ekspresikan Gayamu (Catatan Perjalanan #3)

Belumlah seseorang disebut pernah ke Tokyo apabila tidak mampir di Harajuku. Ya..setelah melihat dari dekat patung anjing Hachiko di Shibuya, saya memutuskan untuk ke Harajuku dengan berjalan kaki. Hari masih belum siang benar, matahari lagi malas bersinar dan suhu masih sekitar 12 derajat, sehingga masih cukup nyaman untuk berjalan kaki. Setelah sedikit kesasar dan menggunakan GPS (ganggu penduduk setempat) saya akhirnya sampai di Harajuku sekitar 20 menit setelah meninggalkan Shibuya.  Saya langsung menuju ke jalan yang menjadi pusat penjualan baju-baju bergaya Harajuku, tepat di depan stasiun kereta api Harajuku.  Belum terlalu ramai, selain karena hari masih agak pagi juga karena ini adalah hari kerja.  
Jalan itu bernama Takeshita, sebenarnya mirip gang, karena tak terlalu lebar. Berada tepat di depan stasiun Harajuku. Di jalan itulah berdiri toko-toko yang menjual pakaian model Harajuku yang kondang di seantero bumi itu.  Jika kita datang pada hari Minggu, jalan ini berubah menjadi catwalk raksasa, tempat bagi anak-anak muda Jepang memamerkan pakaian ala Harajuk mereka. Sayang, saya tidak bisa tinggal sampai hari minggu di Tokyo.
Di tempat ini, kita bisa mencari model apa saja yang kita inginkan dengan harga persisi jika kita berbelanja di autlet di Bandung.  Kabarnya, banyak artis Indonesia yang datang ke sini untuk berbelanja baju untuk dipakai pentas.
Saya bukan pengamat atau ahli mengenai fashion, tapi setelah melihat dengan mata kepala sendiri pakaian yang dijual di Harajuku, kesimpulan saya : ini adalah pemberontakan anak-anak muda terhadap budaya mapan.  Model pakai Harajuku tidak mengenal aturan, pokoknya pakai apa saja yang tidak sama dengan yang diwajibkan pada pakaian dari budaya mapan. Ekspresikan dirimu, dan tak perlu khawatir akan diketawai.  Maka jadilah, Harajuku’s Style yang kita kenal saat ini. Dari sudut pandang budaya (berpakaian) mapan, model Harajuku adalah sampah. Tapi, meski begitu, dunia tetap menggemarinya. Bahkan, salah satu dari lima gaya berpakaian ala Harajuku yakni Lolita (modelnya mirip pakaian jaman Victoria, rok selutut dan mengambang)  kini diadopsi oleh wanita Muslim di Malaysia dengan memasukkan unsur kerudung, maka jadilah apa yang disebut sebagai Muslim Lolita. Kalau Ke Kuala Lumpur, cobalah mencari komunitas Muslim Lolita ini.
(Foto ini saya ambil dengan seijin sang penjaga toko yang cantik ini)

Budaya tanding (pemberontakan budaya) mulai muncul di Eropa pada era 60-an yang dampaknya mulai terasa tahun 70-an. Saat itu, budaya tanding dimaksudkan sebagai pemberontakan anak muda terhadap konsumerisme. Maka, lahirlah musik-musik aliran keras, pria berambut panjang,  pakain acak-acaknya dan tanpa peduli dengan penilaian orang lain.  Mereka menentang perang yang kemudian melahirkan idiom: make love not war.

Setelah budaya tanding ini meredup di banyak negara, Harajuku tampil di depan memimpin kembali pemberontakan budaya, wabil khusus, terhadap kemapanan berpakaian. Namun, jika sebelumnya idiologi kiri yang berada di belakang gerakan ini pada Harajuku kelihatannya dia absen. Mereka tak membutuhkan idiologi kiri, mereka hanya digerakkan oleh perasaan muak pada hegemoni budaya aliran utama (main stream).
Di luar faktor pemberontakan, mode pakain atau rambut, memang susah dimengerti. Mereka memiliki logikanya sendiri. Coba perhatikan hukum gaya berpakaian ini:
10  tahun sebelum waktunya = Tidak pantas
5 tahun sebelum waktunya    = Memalukan
1 tahun sebelum waktunya     = Menantang
Pada waktunya                      = Trendi
1 tahun setelah waktunya       = Ketinggalan jaman
10 tahun setelah waktunya     = Kuno
15 tahun setelah waktunya     = Retro


Atau coba perhatikan ini: rambut lurus dikeriting, sebaliknya rambut keriting harus dicatok. Aneh kan, tapi itulah mode. (***) 

Comments

Popular posts from this blog

Perjalanan Ini (1)

Puisi Cinta Sastrawan Besar

Berdusta Dengan Statistik