Harga Sebuah Keragu-raguan

Hari-hari ini kita disuguhkan dengan sempurna tentang sikap ragu yang harus dibayar dengan harga super mahal. Perhatikanlah, rencana kenaikan harga bahan bakar minyak bersubsidi yang sudah diperbincangkan berbulan-bulan tanpa tak ada keputusan. Rencana itu tidak jalan, rencana ini tidak diterima, formula itu ditentang, formula ini tidak masuk akal. Pada saat semua diskusi itu berjalan, harga-harga sudah bergerak naik dan penimpubanan bahan bakar minya (BBM) merajalela. Dari harga sayur mayur hingga harga keju, dari harga cabe hingga terigu, dari harga gula sampai harga gas semua merangkak naik. Bagi mereka yang tidak pernah ke dapur, pasti tak bisa merasakan bagaimana pusingnya menghadapi kenaikan harga ini. Tapi cobalah tanya ibu-ibu yang setiap hari tercekik karena harga yang tak stabil.

Hingga menjelang bulan puasa (awal Juli), keputusan kapan harga BBM dinaikan belum kunjung pasti juga. Padahal faktor waktu dalam soal ini amat menentukan. Jika dinaikkan pada awal bulan puasa, maka tak ada keraguan harga-harga akan naik berlipat-lipat.

Pertanyaan saya adalah apa yang terjadi dengan pemerintah? Adalah absurd bila kita berasumsi pemerintah tidak tahu bahwa berlama-lama dalam memutuskan masalah ini akan berdampak pada kenaikan harga yang sesungguhnya tak perlu terjadi. Jadi pertanyaanya bukan apa tapi kenapa?

Misalnya kenapa setiap rencana yang belum matang sudah dibuka kepada publik yang bukannya mendapat masukan tapi justru melahirkan perdebatan yang tidak produktif. Contoh soal, rencana prematur membuat dua harga. Tidak perlu belajar ekonomi terlalu canggih untuk mengetahui bahwa rencana ini bukan saja rumit pada tingkat pelaksanaan,  melainkan juga di atas kertas tidak lumrah (untuk tak mengatakan tak memiliki landasan teoritis yang kokoh.) Belum lagi dua harga dalam satu pasar jelas-jelas melanggar Undang Undang Anti-Monopoli yang melarang produsen memberlakukan dua harga yang berbeda pada pasar yang sama.

Kini, sampailah kita pada awal puasa yang secara ekonomi politik pasti tidak tepat untuk menaikan harga BBM. Tanpa kenaikan BBM saja, harga-harga sudah berebut naik pada bulan ramadhan, apalagi bila didorong oleh kenaikan harga BBM. Transportasi dan angkutan publik yang tak dikendalikan oleh pemerintah pasti akan naik. Ujungnya adalah melambungnya harga kebutuhan sehari-hari, sebagus apapun pemerintah menstabilkan pasokan.

Entah apa yang akan dilakukan pemerintah? Menaikan harga BBM menjelang puasa atau menunda lagi? Saya tak ingin bertaruh, tapi tebakan terbaik saya adalah pemerintah menaikkannya dengan penuh keraguan, seperti biasa. (***) 


Comments

Popular posts from this blog

Perjalanan Ini (1)

Puisi Cinta Sastrawan Besar

Berdusta Dengan Statistik