Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Sumpah, Cinta Mati dan Karma (Ketulusan Cinta Seorang Pria)

Saya kelas satu SMP ketika roman percintaan yang mengharu biru ini saya baca. Saya, awalnya, nyaris tak mau menyentuh buku ini, pertama-tama dan terutama karena tebalnya minta ampun dan kedua karena saya sudah menduga duluan tidak ada yang istimewa dengannya. Tapi, saya salah sepenuh-penuhnya. Saya telah melanggar petuah lama: jangan menilai buku dari sampulnya. Saya menilai buku, dalam pengertian sesungguhnya, benar-benar dari tampak luarnya.  Nyatanya novel ini luar biasa dibandingkan prosa lain pada masa kejayaan Pujangga Baru. Begitu berkesannya, sampai-sampai bukan saja judulnya lengket luar biasa di kepala hingga sekarang, tapi juga nama-nama tokohnya terus melekat dalam ingatan. Harus ku akui, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck adalah satu dari sedikit roman jaman dulu yang terus membekas dalam memoriku. Ini mirip lagu-lagu lama yang tak lekang oleh waktu ditengah serbuan lagu “instan” yang mudah dihafal tapi semudah itu pula hilang dalam kenangan kita, hilang tak berbekas.

Makanya, ketika novel ini dilayarlebarkan, saya tak kuasa menunggu. Perasaan saya campur aduk antara penasaran dan takut kecewa.  Penasaran siapa yang akan jadi Nazaruddin dan Hayati, serta takut kecewa karena, seperti Anda tahu, tidak semua film berhasil memindahkan drama dari sebuah novel. Film, karena sifatnya, memiliki keterbatasan memvisualkan seluruh narasi novel yang, dalam tulisan, bisa leluasa dieksplor. Itulah sebabnya kita suka kecewa karena gambar tak mampu memuaskan seluruh imajinasi kita.

Tapi, ketika saya menonton film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, sejujurnya, saya terperangah. Bagaimana tidak. Saya seperti membaca novel ini lagi. Nyaris seluruh novel tergambar di layar. Suasana Padang tahun 1930 yang tidak saja tergambar pada lokasi yang dipilih tapi juga pada warna film yang nyaris hitam putih membuat kita dibawah pada suasana tempo dulu. Harjunot Ali yang memerankan Zainuddin dan Pevita Pierce yang menjadi Hayati juga tampil luar biasa. Keduanya mengharu biru penonton dengan air mata.   
Jika ada yang sedikit mengganggu itu adalah rumah besar Zainuddin di Surabaya yang kelewat mewah, visual tenggelamnya kapal yang, hmmm, bisa dibilang, tidak canggih. Mungkin karena otak saya menyimpan memori visual tentang film Titanic yang dramatis itu, sehingga tenggelamnya kapal Van Der Wijck terasa seperti sangat sederhana.
Nidji yang menciptakan empat lagu untuk film ini juga harus diacungi jempol. Dua diantaranya yang menadi jagoan saya adalah ‘Teroesir’ serta ‘Sumpah dan Cinta Matiku’. Meski agak ngebit, pada lagu Teroesir tapi penempatan lagunya dalam film pas dengan scene ketika Hayati harus meminta maaf atas sumpahnya yang dia ingkari.

Teroesir
Aku yang terusir
Jauh dari kau, jauh dari kamu
Cinta dan harapan, di bumi dan mati
Bangkit dan terbunuh lagi, semua karena dirimu
Aku yang mengemis, mengais cintamu
Seperti pengemis, aku yang dibuang
Dari relung tangan, orang yang kucinta
Oh Tuhan ampunilah dosa, dendam aku padanya
Menunggu karma, Ohhh... aku menunggu karma
Menunggu karma, Ohh...Aku menunggu karma
Dengar dan ingatlah, saat aku bangkit dari kesedihan
Engkau kan berlutut, memohon diriku
Memohon ampunan dari diriku
Oh Tuhan ampunilah aku, niat buruk di doa
Aku hanya inginkan dia, merasakan getir cintaku
Menunggu karma, membalasmu
Aku menunggu karma, membalasmu

Bagi yang membaca novelnya, film ini tak memberi tempat pada episode terakhir hidup Zainuddin saat ditinggal mati Hayati. Seperti dalam novel, Zainuddin menderita setelah kekasihnya itu meninggal. Kesedihan yang mendalam membuat ia sakit dan akhirnya meninggal dan dikuburkan di samping kuburan cinta matinya itu.
Film ini, berbeda dari gambaran umum bahwa pria, pada umumnya, memiliki sifat dasar easy lover, Zainuddin justru digambarkan sebagai pria yg kukuh memelihara cintanya, meski dia dicampakan dengan cara yang bengis. Sekalipun Hayati mengingkari janji-janji dan sumpahnya, toh Zainuddin terus memelihara harapan. Meski Hayati menyempurnakan kekejamannya, Zainuddin tak membalas.

Hayati yang pada awalnya begitu menggebu-gebu mengumbar sumpah dan janji, pada akhirnya tak mampu menggenapkan semua apa yang diucapkannya. Cinta, harus diperjuangkan, jika tak ingin dicap oleh anak alay jaman sekarang sebagai PHP: Pemberi Harapan Palsu. Tapi Hayati tak melakukan itu. Ia seperti pemabok yang mengeluarkan semua kata-kata manis tapi setelah sadar ia tak mampu melunasinya. Zainuddin pun terluka. Meski pada akhirnya, karena tulusnya ia mencintai Hayati, ia bisa memaafkannya, tapi itu sudah terlalu terlambat karena karma terlebih dahulu menghancurkan Hayati. Seperti kata orang, falling in love is easy but staying in love is too hard.

Jika saya ditanya apa moral yang bisa saya tarik dari cerita yang ditulis salah satu tokoh besar yang pernah dimiliki Indonesia ini, Buya Hamka, maka jawaban saya adalah jangan pernah berjanji jika tak mampu melunasinya, sebab cepat atau lambat karma akan membayarnya. (***)

Kenapa bulan januari banyak dijadikan judul Lagu?
Time flies, feeling fade.....
Kopi, Gowes, dan Si Teteh

Comments

  1. Sands Casino Online - Homepage - Sega Games
    Enjoy your incredible collection 제왕 카지노 of video games, arcade action, and more at the choegocasino Sands Casino in Atlantic City! At Sands Casino, play your favorite SEGA septcasino Genesis,

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Perjalanan Ini (1)

Puisi Cinta Sastrawan Besar

Berdusta Dengan Statistik