Puisi Cinta Sastrawan Besar


(mural di salah satu sudut kota ini adalah kutipan dari puisi  patah hati Chairil Anwar. Saya minta maaf kepada fotografernya karena tidak bisa minja ijin) 


Saya bukan pengikut “idiologi” hari valentine. Pun tidak mengakuinya sebab bagi saya, setiap hari adalah hari kasih sayang. Kita bisa mengungkapkan perasaan sayang dan cinta kita kapan saja. Meski begitu, tak berarti saya tidak menghormati mereka yang berseberangan dengan saya, bahkan pada bulan Februari ini, saya secara khusus ingin memberi “kado” tulisan tentang cinta. Maksud saya, saya memilihkan puisi cinta yang ditulis oleh penyair tenar yang selama ini mungkin dikenal hanya menulis puisi-puisi serius.

Puisi-puisi mereka ditulis dengan diksi yang mengharu biru yang, meminjam istilah anak jaman sekarang, galau habis. Membaca tulisan mereka, kita akan sampai pada kesimpulan bahwa urusan cinta, kasih sayang, patah hati, bukan monopoli anak muda atau penulis teenlit. Cinta adalah urusan universal.

Bahkan, jika Anda membaca sejarah, banyak sastrawan dunia yang karya-karya besarnya lahir saat dia jatuh cinta atau hati patah. Yang paling terkenal adalah Dante, penyair besar Italia abad pertengahan yang karyanya ‘Komedi Ketuhanan’  dipengaruhi oleh cintanya yang tak sampai kepada perempuan yang bernama Beatrice.

Kahlil Gibran, penyair Lebanon, yang kemudian disebut sebagai nabinya puisi cinta, juga tak luput dari patah hati yang kemudian menjadi energi dari kreatifitasnya dalam menulis puisi cinta. Dia menulis untuk seorang wanita yang dia cintai tapi pergi begitu saja tanpa pamit: “Jika meninggal, di nisanku akan tertulis, Gibran meninggal karena mengenangmu.” Betapa galaunya Gibran. Intinya, sastrawan juga manusia.

Mari kita mulai dengan puisi sastrawan Sapardi Djoko Damono. Guru besar di Fakultas Satra Universitas Indonesia ini terhitung sastrawan yang canggih dalam urusan puisi cinta. Bagaimana tidak, bahkan anak-anak muda jaman sekarang pun masih memakai pusinya untuk merayu. Satu-satunya penjelasan kenapa begitu adalah karena puisi Sapardi melintasi genersi dan tak tak lekang  oleh waktu. Ini salah satu yang jadi andalah saya:

AKU INGIN

Aku ingin mencintaimu
Dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat
Diucapkan kayu kepada api
Yang menjadikannya abu..

Aku ingin mencintaimu
Dengan sederhana
Dengan isyarat yang tak sempat
Disampaikan awan kepada hujan
Yang menjadikannya tiada

WS Rendra juga adalah rajanya puisi cinta. Meski dia dikenal dengan puisi famplet-nya yang kritis terhadap pemerintah, maksud saya Orde Baru, Rendra adalah jagonya membuat puisi asmara. Dia mengekspresikan perasaan cintanya dengan kalimat-kalimat yang berterus terang. Coba perhatikan puisinya ini  yang dia tulis untuk pacarnya Sunarti yang kemudian menjadi istrinya:

SURAT CINTA  

Kutulis surat ini
kala hujan gerimis bagai bunyi tambur yang gaib,
Dan angin mendesah
mengeluh dan mendesah,
Wahai, dik Narti,
aku cinta kepadamu !

Kutulis surat ini
kala langit menangis
dan dua ekor belibis
bercintaan dalam kolam
bagai dua anak nakal
jenaka dan manis
mengibaskan ekor
serta menggetarkan bulu-bulunya,
Wahai, dik Narti,
kupinang kau menjadi istriku !

Kaki-kaki hujan yang runcing
menyentuhkan ujungnya di bumi,
Kaki-kaki cinta yang tegas
bagai logam berat gemerlapan
menempuh ke muka
dan tak kan kunjung diundurkan.
Selusin malaikat
telah turun
di kala hujan gerimis
Di muka kaca jendela
mereka berkaca dan mencuci rambutnya
untuk ke pesta.
Wahai, dik Narti
dengan pakaian pengantin yang anggun
bunga-bunga serta keris keramat
aku ingin membimbingmu ke altar
untuk dikawinkan
Aku melamarmu,
Kau tahu dari dulu :
tiada lebih buruk
dan tiada lebih baik
dari yang lain ……
penyair dari kehidupan sehari-hari,
orang yang bermula dari kata
kata yang bermula dari
kehidupan, pikir dan rasa.

Semangat kehidupan yang kuat
bagai berjuta-juta jarum alit
menusuki kulit langit :
kantong rejeki dan restu wingit
Lalu tumpahlah gerimis
Angin dan cinta
mendesah dalam gerimis.
Semangat cintaku yang kuta
batgai seribu tangan gaib
menyebarkan seribu jaring
menyergap hatimu
yang selalu tersenyum padaku.

Engkau adalah putri duyung
tawananku
Putri duyung dengan
suara merdu lembut
bagai angin laut,
mendesahlah bagiku !
Angin mendesah
selalu mendesah
dengan ratapnya yang merdu.
Engkau adalah putri duyung
tergolek lemas
mengejap-ngejapkan matanya yang indah
dalam jaringku
Wahai, putri duyung,
aku menjaringmu
aku melamarmu

Kutulis surat ini
kala hujan gerimis
kerna langit
gadis manja dan manis
menangis minta mainan.
Dua anak lelaki nakal
bersenda gurau dalam selokan
dan langit iri melihatnya
Wahai, Dik Narti
kuingin dikau
menjadi ibu anak-anakku !

Mari kita lihat puisi Chairil Anwar. Tokoh ini dikenal dengan puisi-puisi perjuangannya yang tak diragukan lagi menjadi sastrawan yang meletakan dasar-dasar kesusastraan Indonesia modern. Si “binatang jalang’ ini memiliki kemampuan yang luar biasa dalam mengolah kata sehingga puisi-puisinya, meski ringkas dan tak bertele-tele, terkesan liar, penuh kekuatan.

Tapi, apakah Chairil Anwar tidak memiliki sisi romantis? Seperti saya katakan tadi, urusan cinta adalah urusan semua orang, tak terkecuali Chairil Anwar. Ketika dia patah hati, puisi Chairil Anwar sungguh: galau. Coba simak puisinya di bawah ini:


PENERIMAAN 


Kalau kau mau, Kuterima kau kembali
Dengan sepenuh hati
Aku masih tetap sendiri 

Kutahu kau bukan yang dulu lagi 
Bak kembangan sari sudah terbagi 

Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani 
Kalau kau mau kuterima kembali 
Untukku sendiri 
Sedang dengan cermin aku enggan berbagi


SIA-SIA

Penghabisan kali itu kau datang
Membawa karangan kembang
Mawar merah dan melati putih:
Darah dan suci.
Kau tebarkan di depanku
Serta pandang yang mematikan: Untukmu.

Sudah itu kita sama termangu
Saling bertanya: Apakah ini?
Cinta? Keduanya tak mengerti.

Sehari itu kita bersama.Tak hampir menghampiri.

Ah! Hatiku tak mau memberi
Mampus kau dikoyak-koyak sepi.

Selamat hari kasih sayang bagi yang mempercainya J

Comments

Popular posts from this blog

Perjalanan Ini (1)

Berdusta Dengan Statistik