Berdusta Dengan Statistik



Gallup, satu organisasi jajak pendapat yang membangun kredibilitasnya lewat pengalaman ratusan tahun, baru-baru ini terpaksa mengakui adanya kesalahan dalam metodologi jajak pendapat yang mereka lakukan pada saat pemilihaan presiden Amerika yang baru lewat. Bukan hanya itu. Mereka juga akan melakukan perbaikan tata cara pengambilan data.

Sebulan sebelum hari pencoblosan pemilu Amerika, November 2012, jajak pendapat (tracking) Gallup menemukan calon presiden dari Republik, Mitt Romney, unggul 1 hingga 7 poin di atas rivalnya dari Demokrat; Obama. Sepuluh hari menjelang pemilu,  Gallup masih menempatkan Romney empat poindi atas Obama.  Kita semua tahu bahwa Obama menang yang dengan sendirinya meruntuhkan prediksi Gallup.

Kesalahan dan pengakuan Gallup ini, meski tak mengagetkan, jelas merupakan sinyal bagi organisasi jajak pendapat bahwa mereka harus berhati-hati dalam membuat polling.  Namun, di atas segalanya, kesalahan prediksi ini sekaligus memunculkan kembali pertanyaan yang selama ini mengganggu publik: adakah jajak pendapat bisa diatur, bias atau tidak netral?  

Secara teknis, jajak pendapat, polling, survei atau semacamnya bisa diatur. Orang bisa memanipulasi statistik atau data sebab statistika hanyalah alat yang bisa mengikuti keinginan pembutanya. Bagaimana mengatur jajak pendapat? Setidak-tidaknya lewat dua cara: pertama, lewat sampel dan kedua, lewat pertanyaan.

Jika sampel yang ditarik tak mewakili populasi, jelas survei itu pasti menghasilkan sesuatu yang tak merepresentasikan populasi. Kesimpulan diambil cacat secara metodologis dan karenanya tak bisa dipercaya. Misalnya, jumlah wanita dan pria atau jumlah pemeluk agama dan strata sosial yang berimbang dalam satu populasi, maka sampelnya pun harus berimbang. Semua survei yang tak menggunakan prinsip ilmiah atau sampling probabilitas, termasuk straw poll yang biasa digunakan media massa, hasilnya tak layak dipercaya, ini semacam pseudosurvey.

Sementara rancangan pertanyaan  bisa dengan mudah dimanipulasi untuk mengarahkan responden kepada tujuan yang ingin dicapai oleh survei tadi. Misalnya pertanyaan mengenai siapa calon presiden atau calon gubernur yang pantas memimpin,  amat mudah diarahkan. Caranya, nama-nama tertentu dimasukkan sementara nama yang lain tidak dalam daftar jawaban yang dibuat dalam bentuk pilihan ganda. Seorang kawan politisi bercerita kepada saya bahwa hal semacam ini biasa dilakukan sebelum partai menjaring nama calon, katakanlah, bupati. Nama tertentu dimasukkan dan yang lain tidak.

Karena hari-hari ini dan di masa yang akan datang, akan banyak survei atau jajak pendapat yang muncul, maka hati-hatilah membacanya. Survei dengan segala manupulasinya akan terus ada, tapi mempercayainya adalah opsional.


Comments

Popular posts from this blog

Perjalanan Ini (1)

Puisi Cinta Sastrawan Besar