Posts

Jurnalisme Lalu Lintas

Image
Jakarta adalah kota yang cocok untuk latihan kesabaran. Lalu lintasnya yang, nauzdubillah, kacau balau bisa menjadi ajang untuk latihan mengendalikan emosi.  Jika Anda bisa menghadapi kekacauan di jalan raya tanpa meningkatkan tekanan darah, Anda bisa disebut sebagai orang sabar. Sebaliknya jika Anda menghadapinya dengan hati yang panas, maka hampir bisa dipastikan, penyakit tekanan darah tinggi mengancam Anda. Puluhan tahun tinggal di Jakarta, latihan kesabaran ini tak pernah saya praktikan, hingga saya menghadapi situasi jalan yang membuat saya nyaris  putus asa, pada suatu pagi di akhir Januari.  Saat itu, Rabu 29 Januari 2014, seluruh penjuru Jakarta di kepung banjir yang membuat jalanan benar-benar menjadi tempat parkir raksasa. Terjebak di kemacetan luar biasa seperti itu, saya tak memiliki pilihan kecuali menghadapinya dengan kepala dingin dan hati yang ikhlas.    (Ini adalah situasi lalu lintas di tengah kota Tokyo pada pagi hari. Sementara ...

Kopi, Seni Menyeduh dan Cita Rasa

Image
Benar belaka kata orang;  seperti halnya cinta, kopi (hanya) enak dinikmati dalam keadaan HOT.Siapa saja yang memproklamirkan diri sebagai pecinta kopi tahu betul  bahwa kopi memang hanya nikmat dalam keadaan panas. Secangkir kopi panas bisa membuat Anda seperti melayang. Sebaliknya, kopi dingin tak lebih dari minuman basi. Sudah puluhan tahun saya tidak pernah menyeruput kopi, hingga suatu hari beberapa bulan lewat, saya lupa kapan persisnya, saya didera sakit kepala yang hebat pada sebuah workshop di luar kota. Tanpa obat, sakit yang tak tertahankan itu membuat kepala saya seperti dipukul puluhan godam. Setengah putus asa, saya iseng-iseng menyeduh secangkir kopi hitam tanpa gula yang tersedia di dalam ruangan workshop sambil berharap kopi ini bisa menyelamatkan saya dari saki kepala yang menyiksa. Tiga puluh menit kemudian, sakit kepala saya berangsur berkurang. Ajaib, begitu pikir saya. Dalam keadaan terheran-heran, saya bertanya kepada google, apakah kafein memang bi...

Membeku

Siapa bilang waktu cepat berlalu, Di sini,di tempatku berdiri, waktu membeku, dan mematikan.  Ia menawanku hingga tak mampu beranjak, Sekeras aku berontak, sekuat itu pula ia membelenggu tubuh dan jiwaku. Serupa tahanan, aku terpenjara, dalam ruang dan waktu yang tak berpihak padaku, Aku tak bisa pergi, padahal ingin rasanya aku terbang ke kuil Dante, Bertanya padanya bagaimana ia bertahan dari rasa sakit Bagaimana ia menyembunyikan rasa yang tak kunjung padam Di sini aku terpendam, adakah yang bisa menolongku keluar dari belenggu ini?  Mungkin pada Beatrice Portinari, aku bisa berkeluh  kesah tentang harapan yg palsu, Tentang janji yg tak digenapkan Atau setidaknya memberikan kekuatan untuk lepas dari cengkraman masa silam, Bukankah dia telah ditasbihkan sebagai pelindung bagi mereka yang terluka Bandung, November 13

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Sumpah, Cinta Mati dan Karma (Ketulusan Cinta Seorang Pria)

Image
Saya kelas satu SMP ketika roman percintaan yang mengharu biru ini saya baca. Saya, awalnya, nyaris tak mau menyentuh buku ini, pertama-tama dan terutama karena tebalnya minta ampun dan kedua karena saya sudah menduga duluan tidak ada yang istimewa dengannya. Tapi, saya salah sepenuh-penuhnya. Saya telah melanggar petuah lama: jangan menilai buku dari sampulnya. Saya menilai buku, dalam pengertian sesungguhnya, benar-benar dari tampak luarnya.  Nyatanya novel ini luar biasa dibandingkan prosa lain pada masa kejayaan Pujangga Baru. Begitu berkesannya, sampai-sampai bukan saja judulnya lengket luar biasa di kepala hingga sekarang, tapi juga nama-nama tokohnya terus melekat dalam ingatan. Harus ku akui, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck adalah satu dari sedikit roman jaman dulu yang terus membekas dalam memoriku. Ini mirip lagu-lagu lama yang tak lekang oleh waktu ditengah serbuan lagu “instan” yang mudah dihafal tapi semudah itu pula hilang dalam kenangan kita, hilang tak berbekas. ...

Eat, Gowes, Path (Catatan Perjalanan #7)

Image
Pernah suatu masa, dulu, dulu sekali, saya tidak terlalu suka Bandung.  Bukan saja karena jalan-jalan di kota ini seperti liliput, juga karena menuju Bandung adalah perjuangan yang melelahkan melewati jalanan macet di Puncak.   Tapi, ketidaksukaan saya itu bukannya berubah menjadi lebih baik setelah ada jalan tol Purbaleunyi , malah menjadi kebencian.  Awal tahun hingga pertengahan tahun ini, entah kenapa, saya membenci Bandung. Kota ini seperti mengintimidasi saya, setiap kali saya berkunjung pada masa-masa itu. Lalu, mendadak, saya jatuh cinta dengan kota ini. Sama ketika perasaan benci itu datang, perasaan suka saya juga muncul tiba-tiba. Merasuk begitu saja, tanpa ba bi bu, seperti turun dari langit.  Dan, jangan tanya kenapa, karena saya pun tak bisa menjelaskannya.  Cinta, kadang-kadang, tak perlu ada alasan, sama seperti kita mencintai seorang wanita yang, dalam beberapa hal,  bisa datang begitu saja tanpa kita tahu kenapa. Ini seperti campuran...

Rindu dan Luka

ijinkan aku mengenang saat pertama aku memandang matamu. Aku ingin merasakan kembali perasaan tak menentu itu. Biarkan aku hanyut dan melayang dalam fragmen indah saat memelukmu pertama kali, pada suatu malam yang terus menggangu tidurku hingga aku  lupa pada fakta bahwa kita tidak saja telah berjarak tapi juga saling menikam. Kenapa harus ada cinta bila ahirnya kita terluka? Hebatnya, kita membiarkan luka terus memerah, bernanah dan jadi borok, Kita seolah bersepakat untuk membiarkannya tak sembuh lalu menikmatinya setiap saat, seperti seorang masokis. Medan, Sept 2013

Persinggahan (Catatan Perjalanan #6)

Akhir-akhir ini, karena frekuensi keluar kota yang begitu tinggi, tiba-tiba saya menemukan diri saya sangat akrab dengan bandar udara. Nyaris setiap sudut di terminal Garuda di Bandara Soekarno Hatta lekat di memori saya, bahkan mungkin bau ruang tunggu yg tak terlalu harum di terminal 2F itu terus menempel di indra penciuman saya.  Dulu, saya tidak mengembangkan kebiasaan memperhatikan mereka yg lalu lalang di terminal penumpang, sebagian karena saya merasa tak ada hal istimewa, separuh lagi karena saya sibuk dengan pikiran sendiri. Kenapa pula saya harus tengak - tengok untuk sesuatu yg tak  menarik, sementara otak saya juga lagi malas memberin perintah untuk menyisihkan waktu memperhatikan sekeliling.  Ternyata, saya salah, sepenuhnya. Ada banyak hal menarik, bahkan lucu, yang terjadi di airport.  Perhatikanlah dengan seksama tingkah pola penumpang pesawat di ruang tunggu. Sebagian asyik dengan perangkat mobilenya, tak sedikit yang bengong, termenung, juga sedih. ...