Kopi, Seni Menyeduh dan Cita Rasa

Benar belaka kata orang;  seperti halnya cinta, kopi (hanya) enak dinikmati dalam keadaan HOT.Siapa saja yang memproklamirkan diri sebagai pecinta kopi tahu betul  bahwa kopi memang hanya nikmat dalam keadaan panas. Secangkir kopi panas bisa membuat Anda seperti melayang. Sebaliknya, kopi dingin tak lebih dari minuman basi.

Sudah puluhan tahun saya tidak pernah menyeruput kopi, hingga suatu hari beberapa bulan lewat, saya lupa kapan persisnya, saya didera sakit kepala yang hebat pada sebuah workshop di luar kota. Tanpa obat, sakit yang tak tertahankan itu membuat kepala saya seperti dipukul puluhan godam. Setengah putus asa, saya iseng-iseng menyeduh secangkir kopi hitam tanpa gula yang tersedia di dalam ruangan workshop sambil berharap kopi ini bisa menyelamatkan saya dari saki kepala yang menyiksa. Tiga puluh menit kemudian, sakit kepala saya berangsur berkurang. Ajaib, begitu pikir saya. Dalam keadaan terheran-heran, saya bertanya kepada google, apakah kafein memang bisa menyembuhkan sakit kepala. Waoo...ternyata kafein, kandungan kimia terbanyak dalam kopi, bisa meredakan sakit kepala dengan cara mencegah pelebaran pembuluh darah di otak. Sungguh, saya baru tahu hal ini (kemana aja saya selama ini).

Sejak itulah saya menjadi seorang penikmat kopi, tepatnya kopi hitam tanpa gula, wabil khusus lagi, espresso. Jenis kopinya hanya satu: arabica, yang lain tidak. Setiap hari, bersama teh hijau, saya membawa kopi dalam termos kecil ke kantor atau jika lupa, saya membeli di restoran yang khusus menjual kopi. Untuk hobbi baru saya ini saya pun berburu kopi untuk saya seduh dengan racikan sendiri. Beberapa waktu lalu, saya membeli satu kopi yang ditanam dan diproduksi sekali dalam setahun di negara Amerika Latin: Guatemala.  Tidak terlalu keras dengan aroma kopi bercamur buah. Tapi sejujurnya, saya lebih suka campuran sendiri: kopi Toraja plus Kintamani: hasilnya keras....



(Ini kopi Aroma dari Bandung yang tingkat keasamannya bersahabat dengan lambung karena melewati proses pengeringan 8 tahun. Pabrik kopi Aroma ini berdiri sekitat 1930)

Bagi pecinta kopi, tepatnya pecinta kemurnian kopi, menikmati minuman ini lebih dari sekadar menyeruput  air hitam dengan aroma yang menyengat serta tingkat keasaman yang tinggi,  tapi ada seni menyeduhnya, ada tata cara menikmatinya dan ada cita rasa dalam setiap cangkirnya. Mungkin karena itulah, orang melukiskanya mirip cinta.  Seni menyeduhnya berkorelasi langsung dengan rasa yang dikeluar darinya. Karena itulah penikmat kopi hitam, tidak akan meminum kopi yang disedikan begitu saja, sebab derajat panas air dan cara air melewati bubuk kopi akan menentukan aroma, tingkat keasaman dan rasa pahitnya.  Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa kopi yang disediakan di warung-warung dengan langsung memasukkan air mendidih (100 derajat Celsius) tidak enak. Ini soal, sekali lagi, cita rasa yang setiap orang berbeda merasakannya.  Tapi perlu diingat bahwa untuk menjadi barista, tidaklah sembarangan, jadi pasti berbeda rasanya antara kopi yang dibuat seorang barista dengan seseorang yang tidak mempelajari cara menyajikan minuman ini.

Bagi orang Italia, negara di mana espresso ditemukan, kemurnian rasa kopi hanya bisa ditemukan dan dirasakan lewat cara-cara yang unik. Ekspresso, misalnya, hanya bisa dihasilkan dari sebuah mesin yang memanaskan air sekitar  90 derajat lalu menyemperotkannya dengan tekanan udara yang tinggi ke tabung berisi bubuk kopi yang digiling dengan tingkat kehalusan tertentu.  Jika dua syarat utama itu (derajad air dan tingkat kehalusan bubuk kopi) tidak dipenuhi, ekspresso yang dihasilkan akan sangat pahit. Nah, perhatikan menghasilkan eskpresso yang baik tidaklah sembarangan.  

Soal cita rasa, selain dari cara dan lama mengeringkan kopi yang khusus, juga ada cara menikmatinya. Seperti wine yang tak akan bisa dikmati jika salah menenguknya, kopi juga demikian. Cita rasa dan aromanya tak bisa dirasakan jika cara meminumnya salah. Caranya: hirup kopi dengan keras sempai menimbulkan bunyi sehingga air memasuki rongga mulu hingga ke langit-langit, dan rasakan sensanyi sebentar sebelum ditelan. Bagi yang tak tahu cara ini, pasti akan terheran-heran dan menyangka kita tak tahu tata krama makan dan minum, tapi bagi para pecinta kopi memang begitulah cara menikmat minuman ini.
Oh iya, kopi sendiri pertama kali ditanam dan ditemukan di salah satu negara Afrika, Ethiopia, pada abad ke-9. Lalu, bangsa Arab membudidayakan secara massal, dan memperdagangkannya ke Asia dan Eropa. Itulah kenapa disebut sebagai kopi Arabica.


Akan halnya espresso (berasal dari bahasa Italia artinya cepat) ditemukan di Milan, awal abad 20, untuk memenuhi kebutuhan pelanggan akan kopi yang pekat dan disajikan dalam waktu cepat. Dengan cara menyemburkan air 90 derajat di bawah tekanan tinggi, kopi yang dihasilkannya memiliki ratusan kandungan kimia yang tak akan ditemukan dalam minuman kopi yang dibuat dengan cara biasa.

Comments

Popular posts from this blog

Perjalanan Ini (1)

Puisi Cinta Sastrawan Besar

Berdusta Dengan Statistik