Berjalan di Atas Air





Bagian 8
Smokel
Asso bersiap-siap menemui sakratul maut. Kengerian menjalar cepat dari ubun-ubun  melewati badan menuju ke kakinya yang bergetar serupa garpu tala. Mulutnya komat kamit tapi entah doa apa yang dilafalkan.
Saya selalu berdoa diberi umur panjang, sehat dan mati tenang diumur tua di kampung, pikirnya suram,  tapi riwayatku tamat di sini, mati dengan cara menyedihkan di usia yang sangat muda. Mayatku tak akan pernah ditemukan.
Perahu bermesin tempel 50 peka yang ditumpangi Asso dihajar badai yang walaupun tidak terlalu kencang namun cukup mematikan untuk sebuah perahu yang panjangnya hanya 13 meter dengan lebar dua meter lebih. Gelombang, angin dan hujan di selat antara Pulau Nunukan di Kalimantan Utara dengan Pulau Sebatik yang menjadi perbatasan Malaysia terlalu ganas untuk sebuah perahu yang hanya digerakkan oleh mesin bertenaga kecil yang menempel ringkih di posisi buritan. Air laut bercampur hujan sudah memasuki perahu dan bukan perkara mudah mengeluarkan air dengan gayung tanpa terlempar ke laut. Yang membuat perahu yang sedikit lebih besar dari katinting (perahu yang mesinnya digerakkan oleh mesin penggiling kelapa dengan gagang baling-baling yang dibuat panjang) ini tetap mengapung adalah cadik yang menempel di sisi kanan sebagai penyeimbang, seperti umumnya perahu nelayan.
Perahu ini tengah melakukan pelayaran berbahaya pada tengah malam dari moncong burung Kalimantan bagian utara, Nunukan, menuju Tawau, salah satu kota pinggir laut di negara bagian Sabah, Malaysia, yang berbatasan langsung dengan Indonesia. Perahu yang dioperasikan satu orang juru mudi ini mengangkut ribuan rokok kretek dan baju batik selundupan bersama Asso dan dua orang pria yang akan memasuki negara tetangga itu tanpa passport.  Keduanya akan mencari kerja di perkebunan sawit di daerah Sandakan, kota yang berada 300 kilometer di utara Tawau.
Kalau saya tidak mati ditelan badai, saya akan membusuk di penjara negara asing sebagai penyelundup di umurku yang belum genap 17 tahun. Pikiran Asso kacau.
‘’Allahu Akbar…!’’ teriakan panik seorang penumpang segera terbawa angin dan hujan, ‘’kapal akan tenggelam!’’
Asso dan penumpang lain tidak peduli. Mereka sibuk dengan usaha-usaha serius agar tidak terjun bebas ke laut. Sedangkan ‘nahkodanya’, pria berotot dengan kulit legam yang berumur awal empat puluhan, tengah mempertaruhkan kelihaiannya mengendalikan kemudi agar perahu tidak terbalik. Dia harus pandai-pandai menunggangi ombak agar tidak terhempas.  Mungkin juga dia tengah memikirkan kematiannya. Apa yang dia janjikan kepada Asso dan dua penumpang lainya bahwa perjalanan ini mirip rekreasi laut yang menyenangkan, kini berubah menjadi horor yang, sejauh ini, prospeknya bisa dipastikan: kematian.
‘’Kita akan pura-pura jadi nelayan,’’ nakoda yang mengaku sudah tahunan bolak balik menyelundupkan orang dan barang lewat laut itu menjelaskan dengan enteng kepada Asso dan dua orang lainnya sebelum Mereka berlayar. ‘’Karena itu perahu ini menggunakan motor  seperti yang dipakai nelayan pada umumnya. Dan kita juga akan memakai pakaian seperti nelayan.’’
Tanpa beban, seperti sedang menjelaskan perjalanan mengunjungi kerabat di desa tetangga, sang ‘kapten’ melanjutkan, ‘’polisi perbatasan Malaysia di Sebatik akan membiarkan kita lewat setelah kita meyakinkan Mereka bahwa kita hanya akan menangkap ikan. Ini perkara sepele. Sebelum fajar menyingsing, kalian sudah sampai di Tawau dengan selamat, bila kita berangkat setelah waktu Isya. Tapi – dia nyengir memperlihatkan gigi kuningnya yang penuh nikotin -- mabok laut tidak saya tanggung.’’
Semua orang di pelabuhan percaya dengan keahlian sang nahkoda. Namanya begitu harum dan Marrefleksikan dengan sempurna semua makna tentang kalimat: selamat sampai tujuan. Tapi, di sini, pada waktu dan tempat seperti ini, Asso percaya sebaliknya.  
Malam makin pekat. Petir bertalu-talu. Kilat menyabar-nyambar. Angin yang penuh semangat dan bertenaga mendorong ombak makin besar yang suaranya seperti gendang berirama ganjil ketika memukul-mukul dasar perahu. Suara motor meraung-raung seperti orang kesakitan melawan kuatnya arus. Terpal plastik berwarna hitam yang tadinya digunakan untuk menutup barang selundupan dan tempat Asso serta dua lainnya bersembunyi, kini tak mampu lagi melaksanakan tugasnya melindungi apa saja yang  disembunyikan di bawahnya. Satu-satunya tempat agak terlindungi adalah ruangan di bawah atap kayu sepanjang dua meter yang berda di belakang  perahu. Itu pun mulai goyang yang sebentar lagi akan rontok.
Tidak ada bintang di langit yang bisa menjadi pentunjuk astronomi kuno untuk menjadi pembimbing arah. Pelaut yang paling andal sekalipun akan tersesat di lautan mahaluas ini. Ibarat menyetir mobil di tengah lapangan dengan mata tertutup. Tidak ada yang bisa memastikan apakah arah kapal menuju Sebatik, kembali ke arah Nunukan atau hanya melingkar-lingkar.  Arti sebenar-benarnya dari kata ngeri, terwujud dengan sempurna di sini, di tengah lautan gelap gulita yang bergejolak hebat.
Asso yang duduk agak tengah mulai limbung. Angin bercampur butir-butir hujan menghajar mukannya, sakitnya seperti diiris sembilu. Badannya menggigil kedinginan. Jari-jari tanganya mulai mati rasa, sementara kakinya kesemutan. Perutnya bergejolak. Asso memejamkan mata, Saya sudah mati.
Dia berdoa untuk terakhir kalinya, Ya… Allah, tolong, saya tidak ingin mati. Tidak dengan cara ini dan tidak di tempat ini.
Belum selesai seluruh doa dia panjatkan, tiba-tiba nahkoda berteriak, ‘’lampu suar!…Lampu suar di depan..!’’
Asso dan penumpang lainnya dengan sisa semangat yang ada melihat ke arah yang dimaksud sang kapten. Satu titik cahaya berpendar-pendar muncul dari gelapan. Bagi Asso, cahaya itu seperti mata malaikat. Untuk beberapa waktu, Asso merasakan kesenangan luar biasa, semacam reaksi saraf berlebihan: Tuhan yang berkendak di atas sana, menjagaku. Asso memandang ke langit gelap.
 ‘’Ya.. Allah…terima kasih.’’ Bertiga, para penumpang, serempak berteriak.
‘’Berapa jauh lagi?’’ tanya seorang penumpang kepada nahkoda.
Tidak ada jawaban. Nahkoda masih sibuk mengurus gagang kemudi perahunya. Dia tahu betul bahwa jarak ke daratan masih cukup jauh dan kalau pun berhasil sampai ke daratan di balik lampu suar itu -Pulau Sebatik- dengan selamat, yang mana peluangnya mungkin tidak lebih dari seperempat persen, Mereka masih harus berurusan dengan polisi perbatasan Malaysia. Kedok penyelundupan sebagai nelayan akan terbongkar dan Mereka semua akan berakhir di penjara.
‘’Kalau kalian percaya kekuatan doa, dan sebaiknya begitu, mulailah membaca doa-doa terbaikmu,’’ sang kapten tiba-tiba menjawab.
Para penumpang yang gelisah, gantian, tidak Marrespon segera. Euforia Asso berakhir. Dia bahkan bertanya-tanya dalam hati apa gerangan maksud pernyataan pemilik kapal tadi. Tapi dia tak tahan untuk diam,  ‘’semua doa-doa terbaik ku sudah habis saya panjatkan. Apakah kami harus berdoa untuk terakhir kalinya?’’
Suara ombak yang menghantam perahu, terdengar seperti bunyi sangkakala.
‘’Bukan. Bukan itu maksudku. Tapi, arah angin…’’
Belum lagi juru mudi itu melanjutkan, jawaban sesungguhnya sudah muncul. Arah angin berubah dengan sigap, yang tadinya datang dari depan sontak berganti arah dari buritan yang membuat perahu mudah dikendalikan dengan kecepatan yang bertambah. Perahu tidak lagi menentang arus. Peluang Mereka untuk selamat kini naik menjadi separuhnya. Dan, benar saja, hampir tidak ada lagi guncangan berarti hingga perahu mencapai perairan dangkal di belakang lampu suar di Pulau Sebatik, wilayah Malaysia. Kesempatan hidup Mereka melonjak mendekati seratus persen. Tapi, sebaliknya, harapan Mereka untuk tidak tertangkap polisi perbatasan Malaysia justru sebaliknya, nol persen.
‘’Turun semua, kita akan berlindung di sini hingga badai, sedikit, Marreda.’’ Juru mudi memerintahkan tiga penumpangnya meninggalkan perahu menuju pohon bakau yang akar-akarnya saling bersilang di atas permukaan air, sementara dia menambatkan perahunya dengan kuat di tempat yang lebih tersembunyi. Agaknya sang kapten sudah mempersiapkan diri menghadapi yang terburuk.
Tanpa banyak bertanya, Asso dan dua lagi penumpang turun namun begitu Mereka sampai di pinggir pantai yang ditumbuhi pohon baku, tahu-tahu, mendadak, lampu sorot menyala terang benderang datang dari sebuah motor boat yang berjalan perlahan. Patroli polisi Malaysia yang lampu sorotnya berputar-putar seperti mencari sesuatu, berada beberapa puluh meter di depan Mereka.
‘’Siapa di sana?’’ tanya sesorang dari arah boat dengan logat Melayu yang kental.
Asso dan dua penumpang lainnya merapatkan diri di antara akar-akar bakau yang memberi perlindungan sempurna dalam gelap. Menenggelamkan seluruh badannya ke air laut, sementara kepalanya hanya menyembul sebatas hidung. Dia merasakan sesuatu melewati celah antar dua kakinya. Mungkin saja itu ular, tapi bisa juga ikan. Namun dia tidak peduli. Sedangkan juru mudi bersembunyi di balik perahunya yang entah bagaimana sudah tertambat dengan baik jauh di balik pepohonan. Sementara lampu sorot polisi terus menyala kesana kemari, Asso mengawasinya dengan perasaan ngeri. Sebab, polisi-polisi itu, entah berapa jumlahnya, akan dengan senang hati menembakan senjata apinya bila menganggap ada ancaman di balik semak-semak bakau di depannya.
Lama tak ada tanda-tanda sesuatu yang bernyawa di balik kegelapan hutan bakau dan mungkin juga karena takut ombak besar sewaktu-waktu bisa datang lagi, patroli itu bergerak menjauh. Perlahan-lahan lampunya menghilang dalam kegelapan lautan.
Terima kasih Tuhan.
Asso bersyukur dalam hati sambil mengangkat badan dari dalam air. Dia melihat sekelilingnya dan menemukan dua orang teman seperjalanannya juga sudah muncul dari dalam air.  Mereka saling mendekat dan merapat ke arah perahu, di mana juru mudi menunggu. Mereka, berempat, menaiki perahu dan berusaha mencari dengan sia-sia baju kering atau apa saja yang bisa menghangatkan badan. Karena tak menemukan sesuatu yang kering, seorang penumpang meminta pemilik kapal untuk membuka satu bungkus rokok sebagai upaya terakhir menaikan suhu badan sekaligus pengusir nyamuk yang menyerang tak memberi ampun.
‘’Bisakah rokok ini dibuka?’’ tanya seorang penumpang.
Tanpa menjawab, pemilik kapal langsung membuka dan menyerahkan satu bungkus dan menyalakan korek api yang memakai minyak tanah sebagai bahan pembakaranya. Korek api bulat yang terbuat dari aluminium ringan itu tidak bisa langsung menyala karena sumbu kain dan pemantik bulatnya yang terbuat dari besi bergerigi basah oleh air hujan.
Asso menyaksikan secara samar-samar wajah-wajah syok teman seperjalannya setiap kali percikan api keluar dari pemantik korek api minyak, sambil membayangkan kembali bagaimana dia bisa sampai di tempat ini.




Comments

Popular posts from this blog

Perjalanan Ini (1)

Puisi Cinta Sastrawan Besar

Berdusta Dengan Statistik