Jurnalisme Lalu Lintas

Jakarta adalah kota yang cocok untuk latihan kesabaran. Lalu lintasnya yang, nauzdubillah, kacau balau bisa menjadi ajang untuk latihan mengendalikan emosi.  Jika Anda bisa menghadapi kekacauan di jalan raya tanpa meningkatkan tekanan darah, Anda bisa disebut sebagai orang sabar. Sebaliknya jika Anda menghadapinya dengan hati yang panas, maka hampir bisa dipastikan, penyakit tekanan darah tinggi mengancam Anda.

Puluhan tahun tinggal di Jakarta, latihan kesabaran ini tak pernah saya praktikan, hingga saya menghadapi situasi jalan yang membuat saya nyaris  putus asa, pada suatu pagi di akhir Januari.  Saat itu, Rabu 29 Januari 2014, seluruh penjuru Jakarta di kepung banjir yang membuat jalanan benar-benar menjadi tempat parkir raksasa. Terjebak di kemacetan luar biasa seperti itu, saya tak memiliki pilihan kecuali menghadapinya dengan kepala dingin dan hati yang ikhlas.   


(Ini adalah situasi lalu lintas di tengah kota Tokyo pada pagi hari. Sementara Jepang membuat jalan-jalan di kota besar di Indonesia macet, jalan di Tokyo tetap sepi. Foto ini saya ambil ketika berkunjung ke Tokyo akhir tahun 2013)

Di tengah keputusasaan yang mematikan itu tiba-tiba dan mendadak saya tersadar bahwa lalu lintas yang centang perenang dengan penggunanya yang nyaris anarkis itu telah melahirkan apa yang saya sebut sebagai jurnalisme lalu lintas.  Jurnalisme ini memiliki cirinya sendiri yang pertama-tama dan terutama pada penggunaan diksi atau frase yang khas, jika tak mau mengatakan salah. Coba perhatikan ini: “...lalu lintas di Jalan Thamrin padat merayap sementara, lalu lintas di Jalan Gatot Soebroto, padat tersendat.”  Apa arti sebenarnya frase padat merayap dan padat tersendat itu?  Kenapa tidak menggunakan kata: macet? Bukankah, menurut kamus, arti macet adalah tersendat atau tidak berfungsi sebagaimana mestinya yang maknanya sama dengan kedua frase yang saya tulis miring. Tapi, seperti yang saya katakan tadi, jurnalisme lalu lintas memiliki gayanya sendiri yang, sadar atau tidak, telah mendiket pemahaman kita tentang kemacetan lalu lintas.

Satu lagi yang, menurut saya, khas laporan lalu lintas adalah penggunaan sebab akibat yang tidak mengikuti prinsip jurnalistik.  Simak ini: “....arus lalu lintas di Jalan Thamrin mulai padat akibat volume kendaraan yang mulai meningkat.”  Tidak ada yang salah dari kalimat ini. Tapi dari sudut kaidah jurnalistik, kalimat ini bukan berita, sebab volume kendaraan yang meningkat di jalanan Jakarta tentu bukanlah informasi baru yang menjadi syarat untuk sebuah informasi menjadi berita. Tidak ada kebaruan dalam informasi itu. Tapi, meski begitu, setiap hari kita disuguhi dengan laporan macam itu yang, hebatnya atau (sayangnya?), tidak ada yang protes.

Tapi, di tengah-tengah situasi jalanan yang berantakan dan rusuh itu siapa pula yang mau peduli dan protes dengan sesuatu yang remeh temeh. Selain karena masih ada hal-hal besar dan prinsip yang memerlukan perhatian dan kritik kita, juga karena tak ada yang bisa dilakukan untuk membereskan semua siksaan ini. Jadi, itu tadi, nikmati saja dengan penuh kesabaran. Kita memilih untuk menyerah dan menjadi zombi-zombi metropolitan. Pagi kita berangkat ke tempat kerja, beradu kuat di jalanan, berdesak-desakan di bus way atau bus kota, berjudi dengan nyawa, lalu menggerutu sebentar untuk kemudian kita ulangi besok paginya.  


Maka, baiklah....saya ucapkan selamat menikmat jalanan macet, opss..maksud saya, jalanan pamer, tahu kan maksudnya? 

Comments

Popular posts from this blog

Perjalanan Ini (1)

Puisi Cinta Sastrawan Besar

Berdusta Dengan Statistik