Posts

Membeku

Siapa bilang waktu cepat berlalu, Di sini,di tempatku berdiri, waktu membeku, dan mematikan.  Ia menawanku hingga tak mampu beranjak, Sekeras aku berontak, sekuat itu pula ia membelenggu tubuh dan jiwaku. Serupa tahanan, aku terpenjara, dalam ruang dan waktu yang tak berpihak padaku, Aku tak bisa pergi, padahal ingin rasanya aku terbang ke kuil Dante, Bertanya padanya bagaimana ia bertahan dari rasa sakit Bagaimana ia menyembunyikan rasa yang tak kunjung padam Di sini aku terpendam, adakah yang bisa menolongku keluar dari belenggu ini?  Mungkin pada Beatrice Portinari, aku bisa berkeluh  kesah tentang harapan yg palsu, Tentang janji yg tak digenapkan Atau setidaknya memberikan kekuatan untuk lepas dari cengkraman masa silam, Bukankah dia telah ditasbihkan sebagai pelindung bagi mereka yang terluka Bandung, November 13

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Sumpah, Cinta Mati dan Karma (Ketulusan Cinta Seorang Pria)

Image
Saya kelas satu SMP ketika roman percintaan yang mengharu biru ini saya baca. Saya, awalnya, nyaris tak mau menyentuh buku ini, pertama-tama dan terutama karena tebalnya minta ampun dan kedua karena saya sudah menduga duluan tidak ada yang istimewa dengannya. Tapi, saya salah sepenuh-penuhnya. Saya telah melanggar petuah lama: jangan menilai buku dari sampulnya. Saya menilai buku, dalam pengertian sesungguhnya, benar-benar dari tampak luarnya.  Nyatanya novel ini luar biasa dibandingkan prosa lain pada masa kejayaan Pujangga Baru. Begitu berkesannya, sampai-sampai bukan saja judulnya lengket luar biasa di kepala hingga sekarang, tapi juga nama-nama tokohnya terus melekat dalam ingatan. Harus ku akui, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck adalah satu dari sedikit roman jaman dulu yang terus membekas dalam memoriku. Ini mirip lagu-lagu lama yang tak lekang oleh waktu ditengah serbuan lagu “instan” yang mudah dihafal tapi semudah itu pula hilang dalam kenangan kita, hilang tak berbekas. ...

Eat, Gowes, Path (Catatan Perjalanan #7)

Image
Pernah suatu masa, dulu, dulu sekali, saya tidak terlalu suka Bandung.  Bukan saja karena jalan-jalan di kota ini seperti liliput, juga karena menuju Bandung adalah perjuangan yang melelahkan melewati jalanan macet di Puncak.   Tapi, ketidaksukaan saya itu bukannya berubah menjadi lebih baik setelah ada jalan tol Purbaleunyi , malah menjadi kebencian.  Awal tahun hingga pertengahan tahun ini, entah kenapa, saya membenci Bandung. Kota ini seperti mengintimidasi saya, setiap kali saya berkunjung pada masa-masa itu. Lalu, mendadak, saya jatuh cinta dengan kota ini. Sama ketika perasaan benci itu datang, perasaan suka saya juga muncul tiba-tiba. Merasuk begitu saja, tanpa ba bi bu, seperti turun dari langit.  Dan, jangan tanya kenapa, karena saya pun tak bisa menjelaskannya.  Cinta, kadang-kadang, tak perlu ada alasan, sama seperti kita mencintai seorang wanita yang, dalam beberapa hal,  bisa datang begitu saja tanpa kita tahu kenapa. Ini seperti campuran...

Rindu dan Luka

ijinkan aku mengenang saat pertama aku memandang matamu. Aku ingin merasakan kembali perasaan tak menentu itu. Biarkan aku hanyut dan melayang dalam fragmen indah saat memelukmu pertama kali, pada suatu malam yang terus menggangu tidurku hingga aku  lupa pada fakta bahwa kita tidak saja telah berjarak tapi juga saling menikam. Kenapa harus ada cinta bila ahirnya kita terluka? Hebatnya, kita membiarkan luka terus memerah, bernanah dan jadi borok, Kita seolah bersepakat untuk membiarkannya tak sembuh lalu menikmatinya setiap saat, seperti seorang masokis. Medan, Sept 2013

Persinggahan (Catatan Perjalanan #6)

Akhir-akhir ini, karena frekuensi keluar kota yang begitu tinggi, tiba-tiba saya menemukan diri saya sangat akrab dengan bandar udara. Nyaris setiap sudut di terminal Garuda di Bandara Soekarno Hatta lekat di memori saya, bahkan mungkin bau ruang tunggu yg tak terlalu harum di terminal 2F itu terus menempel di indra penciuman saya.  Dulu, saya tidak mengembangkan kebiasaan memperhatikan mereka yg lalu lalang di terminal penumpang, sebagian karena saya merasa tak ada hal istimewa, separuh lagi karena saya sibuk dengan pikiran sendiri. Kenapa pula saya harus tengak - tengok untuk sesuatu yg tak  menarik, sementara otak saya juga lagi malas memberin perintah untuk menyisihkan waktu memperhatikan sekeliling.  Ternyata, saya salah, sepenuhnya. Ada banyak hal menarik, bahkan lucu, yang terjadi di airport.  Perhatikanlah dengan seksama tingkah pola penumpang pesawat di ruang tunggu. Sebagian asyik dengan perangkat mobilenya, tak sedikit yang bengong, termenung, juga sedih. ...

Paradoks Cinta (Catatan Perjalanan #5)

Image
Apa yang membuat seseorang berubah? Adalah satu dari dua hal ini:  belajar banyak atau trauma yang dalam.  Belajar, tak diragukan lagi, membuat seseorang menimba banyak pengetahuan yang darinya membuat dia menjadi lebih pintar (berubah).  Akan halnya trauma, saya kira, adalah jalan tersingkat untuk berubah.  Terluka dalam, dapat membuat seseorang menjadi bukan dirinya lagi hanya dalam hitungan bulan, bahkan mungkin hari.  Luka, seperti halnya menangis yang tidak selalu dengan air mata, kadang kala tak disertai darah. Luka seperti ini sangat traumatis dan  memberi efek psikologis yang dahsyat.  Sebab iya terpendam jauh di dalam hati, seperti air yang terperangkap di telinga, sangat menggangu tapi tak kelihatan oleh orang lain. Kali ini saya akan menuliskan tentang luka yang dalam yang membuat seseorang berubah 180 derajat.  Ini ceritanya. Ketika saya ke Makassar tempo hari untuk urusan  kerja, saya, entah kenapa, tiba-tiba teringat...

Cinta di Simpang Jalan (Catatan Perjalanan #4)

Ke Makassar, bagi saya, bukan saja sekadar pulang kampung, lebih dari itu, semacam perjalan pulang kembali ke titik awal, untuk mengisi kembali baterai yang soak.  Semacan isi ulang listrik. Kok?  Iya, ada banyak hal yang dalam kehidupan sehari-hari saya agaknya sudah kadaluarsa yang setelah balik ke kampung bisa diperbaharui kembali.   Contoh sederhana:  Ketika saya membeli oleh-oleh di salah satu toko, penjualnya dengan antusias menjelaskan bahwa kue yang mau saya beli baru saja datang dan masih fresh.  Dengan refleks, seperti biasa kalau kita mendapatkan informasi, saya menjawab ini: ah..yang bener?  Kata – kata ini sangat lumrah kita dengar dan maksudnya memang setengah becanda, separuh lagi  iseng.  Tapi, saya kaget dengan reaksi penjualnya yang  benar-benar di luar dugaan saya. “Buat apa bohong Pak,” katanya dengan suaran tinggi dalam logat Bugis – Makassar yang kental,  “Berjualan itu modalnya  harus jujur, Pak. ...