Posts

Showing posts from June, 2013

Just Give Me a Reason yang Mengganggu Saya

Lama-lama saya terganggu (dalam pengertian yang harafiah dan kiasan) dengan lagu just give me a reason. Sekian minggu terakhir ini lagu ini mengepung hari-hari saya. Dari saya bangun tidur hingga mau tidur lagi, lagu ini terus mengusik telinga. Tidak di radio, pun tidak di Path, juga di mal, lagu ini mengudara terus. Apa yang awalnya saya tak peduli, akhirnya, itu tadi tergangngu, lalu didorong rasa rasa penasaran, saya pun terpaksa menyimak baik-baik setiap lagu ini ada di radio. Hmm..pop-rocknya oke, itu penilain saya sebagai konsumen musik, bukan sebagai ahli. Tidak berhenti di situ. Saya pun bertanya kepada Pak Google siapa gerangan penyanyi yang tipe suaranya tak khas-khas benget  itu dan seberapa dahsyat liriknya serta masuk peringkat berapa dia di tangga-tangga lagu dunia? Oh..ternyata artisnya adalah Alecia Beth Moor yang dikenal dengan nama panggung: Pink. Lagu ini masuk dalam sepuluh teratas tangga lagu di banyak negara dan terus bertahan di sana dalam beberapa...

Ka..Bandung? 'Mbung'

Image
Kok bisa ya..ke Bandung sama dua orang ini Saya tak pernah benar-benar suka Bandung. Terutama karena jalan-jalannya yang ribet dan rumit, serupa liliput. Bikin pendatang seperti saya selalu tersesat . Memaksa kita menggunakan GPS (ganggu penduduk setempat  J ).  Tidak itu saja. Lalu lintasnya macet, nyaris sama dengan Jakarta, kalau tidak lebih parah. Terlebih jika akhir pekan atau tanggal merah. Ampun...Saya tak pernah memasukkan Bandung sebagai tujuan wisata saya jika musiam libur tiba atau cuti bersama. Makanya saya tak habis pikir apa yang membuat kota ini selalu dirindukan?  Meski bersusah-susah, toh...orang -orang dari segala penjuru tetap berbondong-bondong  ke kota yang dulu disebut Paris Van Java (saya kira kota ini sekarang sudah tak layak disebut begitu).  tersesat di PVJ bersama lelaki ini..betapa menyedihkannya :) Seperti Jakarta, kota Bandung ibarat lampu yang menjerat laron, sebagian diantaranya tersengat, sebagian lagi menikmat...

China Yang Makin Mengancam

Pekan pertama Juni 2013, sebuah pertemuan bernuansa informal di gelar di Amerika antara Presiden China Xi Jinpin dengan Presiden Amerika Obama ditengah-tengah kekhawatiran Paman Sam akan pencurian teknologi militer mereka oleh para peretas handal China yang konon berbasis di Shanghai yang didukung penuh oleh tentara China. Berita ini sontak mengingatkan saya pada kunjungan saya ke negara komunis itu lima belas tahun silam. Saat itu, saya adalah satu-satunya wartawan Indonesia yang terpilih oleh Kementerian Luar Negeri bersama jurnalis lainya dari negara-negara Asia, mengikuti perayaan hari ulang tahun Partai Komunis China. Saya berdiri di Lapangan Tiananmen dengan perasaan berdecak menyaksikan teriakan “hidup China” dari jutaan pengunjung yang mengikuti pawai persenjaatan sore menjalang malam di lapangan Tiananmen yang bersejarah itu saat rudal balistik dan persenjataan super canggih melintas di depan mereka. Berada di antara kerumunan warga Cina, di hari yang bersejarah itu...

Lelaki Yang Terluka

Pengantar: Kolega saya, mengirimkan tulisannya, sebagian puisi dan prosa yang dia kumpulkan dalam buku berjudul: Hilangnya Bintang Paling Terang. Saya posting sebagian. Selamat membaca Lelaki itu terbakar amarah Dadanya penuh luka  Perpaduan yang mematikan bagi seorang yang tersakiti Tangannya mengepal Matanya merah Nafasnya satu – satu Sudah sekian purnama ini amarahnya tertahan Seperti gunung api yang siap menyemburkan awan panas Dengan semua angkara yang siap meledak Lelaki terluka itu masuk ke bar di sebuah tempat yang sering disebut PVJ Mengambil kursi persis menghadap pintu masuk Lagu trance membahana Tak mampu mendinginkan hatinya yang mendidih Lagu itu terdengar seperti raungan anjing hutan yang siap menerkam Tekadnya sudah bulat Ia harus membalas dengan setimpal Sikapnya yang mengalah justru membuatnya dihina dina “Orang ini tak pantas dikasihani,” ia berkata pada dirinya Malam makin tua Lampu-lampu dipadamkan Orang –...

Harga Sebuah Keragu-raguan

Hari-hari ini kita disuguhkan dengan sempurna tentang sikap ragu yang harus dibayar dengan harga super mahal. Perhatikanlah, rencana kenaikan harga bahan bakar minyak bersubsidi yang sudah diperbincangkan berbulan-bulan tanpa tak ada keputusan. Rencana itu tidak jalan, rencana ini tidak diterima, formula itu ditentang, formula ini tidak masuk akal. Pada saat semua diskusi itu berjalan, harga-harga sudah bergerak naik dan penimpubanan bahan bakar minya (BBM) merajalela. Dari harga sayur mayur hingga harga keju, dari harga cabe hingga terigu, dari harga gula sampai harga gas semua merangkak naik. Bagi mereka yang tidak pernah ke dapur, pasti tak bisa merasakan bagaimana pusingnya menghadapi kenaikan harga ini. Tapi cobalah tanya ibu-ibu yang setiap hari tercekik karena harga yang tak stabil. Hingga menjelang bulan puasa (awal Juli), keputusan kapan harga BBM dinaikan belum kunjung pasti juga. Padahal faktor waktu dalam soal ini amat menentukan. Jika dinaikkan pada awal bulan puasa, ...

Elegi Nomer 18A

Pengantar: Kolega saya, mengirimkan tulisan-tulisannya, sebagian besar mengenai puisi dan prosa, yang dia kumpulkan dalam satu buku berjudul: Hilangnya Bintang Paling Terang. Akan saya posting sebagian mulai hari ini. Selamat membaca.   Elegi Nomer 18A Di kamar ini dulu aku menjagamu dengan setia Saat kamu terbaring tak berdaya Memelukmu dengan cinta agar lelahmu hilang Membiarkan bahumu menyandar agar kamu terlindungi Membagi penat agar kamu kembali pulih Mencium keningmu agar semangatmu bangkit lagi Mendengar keluh kesahmu agar bebanmu meringan Kini, engkau menghilang Tanpa perpisahan Tapi ijinkan aku menulis puisi ini Bacalah saat kamu lelah menjalani hidup Saat kamu merasakan sepinya sepi Mungkin tak banyak menolong Tapi ingatlah masih ada aku yang berdoa untukmu By:Inay Maryam, Jakarta, Feb 13

Xoxo

Aku ingin berbaring Di sampingmu, sayang Di ranjangmu yang hangat  Di bawah selimutmu yang biru Di kamarmu yang penuh kenangan Tempat kita selalu menghabiskan malam Bertukar cerita tentang politik yang makin edan atau sekadar bercanda Bukan..Bukan, sayang Sama sekali bukan untuk bercinta Aku hanya ingin dekat denganmu Melingkarkan tangan di dadamu Memelukmu erat – erat Biar ku rasakan nadimu yang mengalirkan cinta Hingga aku terlelap Lalu bermimpi tentang rumah mungil Jakarta, Februari 13