Posts

Showing posts from November, 2013

Rindu dan Luka

ijinkan aku mengenang saat pertama aku memandang matamu. Aku ingin merasakan kembali perasaan tak menentu itu. Biarkan aku hanyut dan melayang dalam fragmen indah saat memelukmu pertama kali, pada suatu malam yang terus menggangu tidurku hingga aku  lupa pada fakta bahwa kita tidak saja telah berjarak tapi juga saling menikam. Kenapa harus ada cinta bila ahirnya kita terluka? Hebatnya, kita membiarkan luka terus memerah, bernanah dan jadi borok, Kita seolah bersepakat untuk membiarkannya tak sembuh lalu menikmatinya setiap saat, seperti seorang masokis. Medan, Sept 2013

Persinggahan (Catatan Perjalanan #6)

Akhir-akhir ini, karena frekuensi keluar kota yang begitu tinggi, tiba-tiba saya menemukan diri saya sangat akrab dengan bandar udara. Nyaris setiap sudut di terminal Garuda di Bandara Soekarno Hatta lekat di memori saya, bahkan mungkin bau ruang tunggu yg tak terlalu harum di terminal 2F itu terus menempel di indra penciuman saya.  Dulu, saya tidak mengembangkan kebiasaan memperhatikan mereka yg lalu lalang di terminal penumpang, sebagian karena saya merasa tak ada hal istimewa, separuh lagi karena saya sibuk dengan pikiran sendiri. Kenapa pula saya harus tengak - tengok untuk sesuatu yg tak  menarik, sementara otak saya juga lagi malas memberin perintah untuk menyisihkan waktu memperhatikan sekeliling.  Ternyata, saya salah, sepenuhnya. Ada banyak hal menarik, bahkan lucu, yang terjadi di airport.  Perhatikanlah dengan seksama tingkah pola penumpang pesawat di ruang tunggu. Sebagian asyik dengan perangkat mobilenya, tak sedikit yang bengong, termenung, juga sedih. ...

Paradoks Cinta (Catatan Perjalanan #5)

Image
Apa yang membuat seseorang berubah? Adalah satu dari dua hal ini:  belajar banyak atau trauma yang dalam.  Belajar, tak diragukan lagi, membuat seseorang menimba banyak pengetahuan yang darinya membuat dia menjadi lebih pintar (berubah).  Akan halnya trauma, saya kira, adalah jalan tersingkat untuk berubah.  Terluka dalam, dapat membuat seseorang menjadi bukan dirinya lagi hanya dalam hitungan bulan, bahkan mungkin hari.  Luka, seperti halnya menangis yang tidak selalu dengan air mata, kadang kala tak disertai darah. Luka seperti ini sangat traumatis dan  memberi efek psikologis yang dahsyat.  Sebab iya terpendam jauh di dalam hati, seperti air yang terperangkap di telinga, sangat menggangu tapi tak kelihatan oleh orang lain. Kali ini saya akan menuliskan tentang luka yang dalam yang membuat seseorang berubah 180 derajat.  Ini ceritanya. Ketika saya ke Makassar tempo hari untuk urusan  kerja, saya, entah kenapa, tiba-tiba teringat...

Cinta di Simpang Jalan (Catatan Perjalanan #4)

Ke Makassar, bagi saya, bukan saja sekadar pulang kampung, lebih dari itu, semacam perjalan pulang kembali ke titik awal, untuk mengisi kembali baterai yang soak.  Semacan isi ulang listrik. Kok?  Iya, ada banyak hal yang dalam kehidupan sehari-hari saya agaknya sudah kadaluarsa yang setelah balik ke kampung bisa diperbaharui kembali.   Contoh sederhana:  Ketika saya membeli oleh-oleh di salah satu toko, penjualnya dengan antusias menjelaskan bahwa kue yang mau saya beli baru saja datang dan masih fresh.  Dengan refleks, seperti biasa kalau kita mendapatkan informasi, saya menjawab ini: ah..yang bener?  Kata – kata ini sangat lumrah kita dengar dan maksudnya memang setengah becanda, separuh lagi  iseng.  Tapi, saya kaget dengan reaksi penjualnya yang  benar-benar di luar dugaan saya. “Buat apa bohong Pak,” katanya dengan suaran tinggi dalam logat Bugis – Makassar yang kental,  “Berjualan itu modalnya  harus jujur, Pak. ...

Harajuku Style: Ekspresikan Gayamu (Catatan Perjalanan #3)

Image
Belumlah seseorang disebut pernah ke Tokyo apabila tidak mampir di Harajuku. Ya..setelah melihat dari dekat patung anjing Hachiko di Shibuya, saya memutuskan untuk ke Harajuku dengan berjalan kaki. Hari masih belum siang benar, matahari lagi malas bersinar dan suhu masih sekitar 12 derajat, sehingga masih cukup nyaman untuk berjalan kaki. Setelah sedikit kesasar dan menggunakan GPS (ganggu penduduk setempat) saya akhirnya sampai di Harajuku sekitar 20 menit setelah meninggalkan Shibuya.  Saya langsung menuju ke jalan yang menjadi pusat penjualan baju-baju bergaya Harajuku, tepat di depan stasiun kereta api Harajuku.  Belum terlalu ramai, selain karena hari masih agak pagi juga karena ini adalah hari kerja.   Jalan itu bernama Takeshita, sebenarnya mirip gang, karena tak terlalu lebar. Berada tepat di depan stasiun Harajuku. Di jalan itulah berdiri toko-toko yang menjual pakaian model Harajuku yang kondang di seantero bumi itu.  Jika kita datang pada hari Minggu, j...

Cinta Tanpa Reserve (Catatan Perjalanan #2)

Image
Tokyo akhir Oktober 2013. Suhu udara mulai turun menjadi 12 derajat Celcius. Ditengah jadwal yang ketat, saya harus memilih tempat manakah yang harus saya kunjungi di Tokyo dan sekitarnya.  Saya memutuskan untuk mengunjungi Shibuya dan Harajuku, dua kota yang lekat di kepala saya selama ini.  Yang disebut pertama karena kisah kesetiaan tanpa akhir seekor anjing dan cerita kesibukan salah satu persipanganannya yang paling ramai di dunia, sementara yang disebut terakhir adalah kisah tentang mode pakaiannya yang, dalam beberapa hal, lebih ditepat disebut sebagai pemberontakan. Dari Tokyo, saya menggunakan kereta api ke Shibuya di pagi hari yang sibuk dengan harapan bisa menyaksikan keramaiann persimpangan Shibuya yang terkenal itu yang berlokasi di dekat stasiun kereta api Shibuya, tapi apa daya saya sampai di sana pukul 9 lewat dimana orang – orang yang menyeberangi persimpangan empat itu sudah berkurang. Jelas saya kecewa. Saya pun memusatkan perhatian pada patung seekor a...