"Sex, Drugs and For Sure Rock n' Roll" (Euro Trip #1)
Tagline Satu Hotel di Frankfurt Yang Tak Perlu Dipikirkan Maknanya
Siang menjelang sore pada suatu hari di musim panas yang
dingin, saya tiba di Frankfrut International
Airport, setelah penerbangan yang melelahkan dari Jakarta, yang didahului
dengan transit tengah malam di Doha. Frankfrut
adalah pintu masuk saya ke German dalam
perjalanan keliling beberapa negara Eropa. Suhu udara 17 derajat Celcius. Mendung
menggantung di udara. Ini jelas anomali
cuaca (perubahan iklim ini sungguh menyebalkan), sebab di bulan Agustus yang
seharusnya summer, udara di sini tetap sejuk. Tapi udara dingin itu tak mampu
menenangkan perasaan tegang saya menghadapi pemeriksaan imigrasi. Kok? Ini ceritanya: setiap kali saya keluar
negeri, saya selalu bermasalah dengan imigrasi. Nama saya yang terdengar Arab
atau Timur Tengah plus berasal dari Indonesia membuat alarm di computer
imigrasi berbunyi kencang. Biasanya, saya tertahan lebih dari 10 menit menunggu
computer imigrasi bekerja mencari tahu
-- entah apa itu, mungkin memeriksa apakah nama saya masuk dalam daftar
cegah atau patut dicurigai memiliki idiologi ekstrim -- sebelum akhirnya paspor
saya dicap. Itu juga kalau lagi mujur, sebab kadang kala saya harus dipanggil
ke kantor imigrasi.
Dengan latar belakang pengalaman dan persepsi seperti itu
saya maju ke depan meja petugas imigrasi yang berbadan besar itu. Tapi di luar
dugaan, pak petugas itu dengan ramahnya bertanya alasan saya mengunjungi German.
Nada suaranya tidak ketus, bahkan nyaris bercanda dengan saya, tidak seperti
umumnya petugas imigrasi yang suaranya dibuat-buat berwibawa. Tarikan wajahnya normal dan tersenyum saat
bicara, bertolak belakang dengan yang kita saksikan di pintu imigrasi bandara
dimana wajah petugasnya yang, umumnya, terlihat bosan tanpa ekspresi. Kejutan pertama.
Suasana di Stasiun Kereta Api Frankfurt. Inilah kereta cepat yang saya pakai ke Berlin
Frankfrut adalah salah satu dari lima negara bagian terbesar
di German dan terbesar kedua sebagai kota metropolitan. Sebagai kota industri,
Frankfrut memiliki transportasi publik yang bagus, mulai dari kereta bawah
tanah, trem hingga bus kota. Tapi bukan kehebatan transpotasi publiknya itu
yang ingin saya bagi di sini, melainkan kejutan kedua saya di kota ini. Begini: demi menghemat biaya, di kota ini,
dan di kota-kota lainnya, saya memilih menginap di hotel ‘budget’ yang dekat
dengan stasiun kereta api. Bukan saja karena tarifnya murah meriah (maksud saya
murah versi mata uang euro, tapi tetap mahal dalam mata uang rupiah. Benar
belaka kata orang rupiah itu: big money,
small value. 1 euro = Rp 15.000 sekian) juga karena saya lebih banyak
memakai moda angkutan kereta api antarnegara, maupun dan MRT. Saya pun memilih satu hotel yang menyebut
dirinya: 25 Hours Hotel (jadi sehari lebih sejam), berlokasi satu blok dari
stasiun utama kereta api Frankfurt. Tak ada keraguan, hotel ini, harus saya
akui, cossy, design-nya trendi. Suasana di dalam hotel tenang, cocok untuk
beristirahat. Hotel yang dibuat Levi's (Ya..Anda betul Levi's pembuat celana jins) ini sangat urban dengan tagline yang ditulis di atas kertas
yang disimpan di atas kasur sebagai ucapan selamat datang: sex, drugs, and for sure rock n’roll. Berbekal rasa penasaran, saya pun menemui staf di front desk dan
bertanya apa makna dari tagline itu. Mau
tahu jawabannya? “Nothing,” kata petugas hotel ini, “Jangan diambil serius, itu
hanya sekadar kalimat.” Kejutan kedua.
Ketika hendak pergi ke pusat kota, saya memutuskan untuk
berjalan kaki. Toh, udara hari itu tidak terlalu panas. Saya pun menyerahkan
rute, dan keselamata, saya kepada GPS untuk menuntun saya ke pusat kota yang
katanya hanya sekitar 20 menit berjalan kaki.
Di Jakarta saya, Anda juga tentunya, bisa menghabiskan berjam-jam di
jalan, untuk menempuh jarak kurang dari 20 kilometer. Jadi, kalau hanya 20
menit, tak ada masalah. Saya sudah mulai melihat ada yang tidak beres ketika
saya melihat dari jauh lampu neon dengan nyala yang mencolok di depan pintu
gedung-gedung di depan saya. Sebelum terlalu jauh berjalan, saya melewati orang
berkelompok-kelompok antara 3 atau 4 orang duduk berkerumun di trotoar sambil
mengerjakan sesuatu. Ahaaaa, benar saja. Saya melewati kawasan lampu merah.
Lampu neon itu bergambarkan wanita menari-nari, sedangkan kerumunan orang tadi
sibuk melinting ganja. Kejutan ketiga. Di bandingkan kota-kota lain di German,
Frakfurt jauh lebih bebas dan sedikit lebih “liar”. So, jika ke kota in
bersiaplah sedikit lebih waspada.
Kejutan keempat. Matahari baru terbenam pukul 10 malam. Pada
pukul 18, hari masih terang benderang layaknya pukul 15 sore. Oh iya, saya
lupa, saat saya di Frankfurt, puasa masih tersisa beberapa hari. Jadi, pilihan
saya adalah, berbuka pada pukul 22.00 atau mengikuti jam Indonesia. Sejujurnya,
saya tak mampu berpuasa hingga tengah malam.
Inilah pengatar catatan perjalanan saya berkeliling: Berlin,
Amsterdam, Paris, Roma, Venice, Dusseldorf, Munchen, Koln, dan Florance dalam tiga minggu kurang sedikit pada liburan lebaran 2014. (Bersambung)
Comments
Post a Comment