Nyeruput Kopi di Milan (Euro Trip #2)
Bagi orang Italia, kopi adalah idiologi, bahkan mungkin juga agama.
Begitu merasuknya budaya minum kopi di negara ini, sampai-sampai masyarakatnya
tidak akan pernah minum kopi sembarangan. Maksud saya, mereka hanya minum kopi pilihan
dan diseduh dengan baik oleh barista yang berpengalaman. Mungkin itulah penjelasan utama kenapa
perusahaan kopi terbesar dunia asal Seattle, Amerika, tak mampu membuka satupun
cabang di Italia (dan juga di Australia yang belakangan menyusul Italia sebagai
negara pecinta kopi). “Perusahaan asal
Paman Sam itu hanya untuk pemula,” ujar teman saya.
Salah satu sudut kota Milan yang masih mempertahankan bangun tua dantrem tua. Photo ini saya ambil ketika mengunjungi Milan di awal September 2014
Ketika singgah di Roma dan Milan pada musim panas yang dingin (suhunya selalu di bawah 20 derad celcius) di awal September 2014 dalam perjalan ke sejumlah negara Eropa, saya menyaksikan
sepanjang hari orang Italia menyeruput kopi dan umumnya minum kopi tanpa
campuran susu sambil berdiri berderet-deret di bar. Semua tempat, dari apa yang bisa saya lihat,
pasti menyediakan kopi. Jadi bisa dibilang tak ada coffee shop di sini. Ada dua
cara menikmat kopi di Italia. Sambil berdiri di bar atau duduk di kursi. Jangan
salah pilih, sebab konsekuensinya berbeda pada harga yang harus kita bayar. Jika Anda pilih berdiri di bar, dan itu yang
lebih banyak dilakukan orang Italia pada pagi hari dan siang hari karena diburu
waktu, harga secangkir espresso, rata-rata 1 Euro 10 Cen atau sekitar dengan Rp
20 ribu lebih sedikti (duh murahnya, bandingkan dengan harga di Jakarta yang
dipatok di atas Rp 30 ribu). Tapi, jika Anda memilih sambil duduk di kursi,
biasanya dilakukan pada sore hari sepulang kantor, Anda akan dikenakan harga 3
Euro (mahal sekali sebab kita menggunakan kemewahan ruangan yang dimiliki restoran).
Saya, biasanya, tidak berani minum espresso di pagi hari
dengan alasan kopi jenis ini terlalu kuat untuk lambung saya yang lemah. Tapi, di
Roma, saya melanggar aturan itu dengan
mencoba menikmati espresso saat sarapan. Astaga, nikmatnya, dan diatas
segalanya lambung saya tidak menderita dan selama di Italia, saya selalu
melakukan ritual espresso itu setiap sarapan.
Sebelum terlalu jauh, saya harus jujur, saya bukan barista, pun
bukan ahli tentang kopi, saya hanya penggemar kopi, tidak lebih tidak kurang. Saya
menyebut diri saya dan beberapa teman di kantor sebagai coffee hunter. Terdorong rasa ingin tahu itulah, saya
menyempatkan diri ke Milan. Menggunakan kereta api yang nyaman, pagi-pagi
sekali saya berangkat ke kota mode itu hanya untuk menikmati kopi di tempat
dimana mesin espresso ditemukan. Dari stasiun utama kereta api antarkota saya
pindah ke kereta api bawah tanah menuju pusat kota Milan, Piazza Duomo. Menguji hiptesis saya bahwa di manapun Anda
minum kopi di Italia, tak peduli di restoran besar di pusat kota, di coffee
shop kecil atau di kedai di stasiun kereta api bawah tanah, kopi yang
disajikannya tetap standar Italia, saya langsung mampir di restoran pertama
yang saya temui begitu naik dari tangga bawah tanah tepat di tengah Piazza
Duomo.
Restoran yang saya singgahi terbilang kecil tapi memiliki beberapa
kursi di depan yang langsung berhadapan dengan lapangan terbuka di Piazza
Duomo. Saya melihat-lihat menu yang
tertulis di papan kecil yang digantung
di dinding. Saya menunjuk salah
satu kopi yang namanya, rasa-rasanya, belum pernah saya temukan di
Jakarta: Espressino. Kali ini saya tidak
mau berdiri di bar, saya memilih duduk di kursi menghadap lapangan Piazza yang
membuat saya harus membayar lebih mahal. Tak mengapa.
Espressino yang saya pesan di salah satu cafe di sekitar Piazza Duono Milan
Rasa kopinya? Saya tidak bisa memastikan mana diantara ini
yang terjadi: saya terhipnotis, maksudnya tersugesti atau memang kopinya enak
plus suasana kota Milan siang itu yang tak terlalu ramai, yang pasti saya
sungguh menikmati secangkir kopi itu yang belakangan saya tahu itu adalah
espresso dicampur susu dan coklat tapi rasa kopinya tetap jauh lebih kuat. Jadi,
benar belaka hipotesis saya.
Italia memang tak ada tandingannya. Kopinya keras dan hanya
pecinta kopi sejati yang benar-benar bisa menikmatinya. Itulah kenapa orang
Amerika yang tidak bisa menikmati kopi kental, meminta dibuatkan espresso yang
encer, maka lahirlah kopi ini: americhano.
Comments
Post a Comment