The Wolf Of Wall Street dan Cerita Tentang Uang
Jordan Belfort dan Wall Street adalah adalah kombinasi yang
serasi. Keduanya mampu bersenyawa dengan baik.
Belfort yang muda, bersemangat, cerdas, dan terutama, rakus bertemu
dengan Wall Street yang menyediakan semua kemungkinan untuk mewujudkan semua
mimpi-mimpi duniawi dengan cara legal maupun
curang.Klop bukan? Mereka seperti botol menemukan tutupnya. Itulah tema yang diangkat dalam film The Wolf
of Wall Street yang merupakan adaptasi dari buku biographi Belfort.
Belfort yang pada tahun 90-an akhir menggemparkan pasar modal dunia, wabil khusus Wall Street,
setelah ia melakukan perdagangan saham secara curang dan mencuci uang hasil
jarahannya di Swiss. Kala itu umurnya masih 26 tahun dan berhasil secara
meyakinkan selama 22 bulan mengelabui otoritas
pasar modal AS. Dia berhasil meraup uang 150 juta Dolar Amerika dan
mencuci sebagian diantaranya dengancara menyelundupkan secara fisik uangnya ke
Swis. Caranya adalah melilitkan dolar pecahan seratus ke badan wanita-wanita
yang dia sewa. Cara tradisional ini tentu saja tidak berhasil andaikan Belfort
melakukannya hari ini, dimana teknologi keamanan sudah sangat canggih plus
penggeledahan seluruh badan yang sudah menjadi prosedur standar bandara.
Di bawah bendera Stratton Oakmont, perusahaan yang dia buat bersama
kawan-kawannya yang tak memiliki pengetahuan bursa, Belfort menjalankan bisnis
pialang saham dengan cara yang sebenarnya sudah jamak di Wall Street, yakni,
jual mimpi sebanyak banyaknya kepada pemodal yang ingin cepat kaya tapi tak
mengerti bagaimana bursa bekerja. “Ini bisnis ilusi,” kata bos Belfort saat dia
baru bergabung di Wall Street dan masih menjadi trader culun.
Belfort muda mampu mencetak pendapatan senilai US$ 250 juta
dan memiliki apa saja yang bisa dibeli, mulai dari rumah mewah, kapal pesiar,
mobil super mahal, dan gaya hidup kelas atas dengan pesta-pesta kokain dan
wanita panggilan yang sebenarnya juga sudah biasa di industri pasar modal saat
itu dan bahkan sampai sekarang. Beberapa
tahun silam, seorang mucikari pernah meegaku pada media bahwa dia rutin
menyuplai wanita untuk pesta-pesat eksekutif Wall Street.
Kehidupan Belfort yang kacau balau itu digambarkan secara
kasat mata oleh sang sutradara, Martin Scorsese, tanpa banyak perubahan dari
versi bukunya. Itulah sebabnya film ini ditolak di banyak negara dan disensor
ketat. Bayangkan Belfort yang diperankan dengan sangat baik oleg Leonardo
DiCaprio, meski umur terlihat lebih tua dibandingkan Belfort saat itu,
mengkonsumsi kokain setiap hari dan menggelar pesta-pesta sex secara rutin di
rumah pantainya. Dan, Belfort mengunakan kata-kata fuck atau kata-kata jorok lainnya, dalam
pembicaraan sehari-hari di kantornya. Di film ini ada lebih dari 500 kata-kata
fuck. Oh iya..film ini dinominasikan untuk mendapatkan Academy Award.
Ketika mengikuti kursus singkat mengenai pasar modal di Wall Street tahun 90-an, saat di mana bursa saham dunia tengah booming dan Belfort lagi jaya-jayanya, kami berkesempatan mengunjungi kantor Marrill Lynch dan menyakiskan bagaimana ratusan pialang saham berteriak-teriak di telephon mereka saat melalukan transaksi saham. Persis seperti itulah yang saya saksikan di film Belfort ini.
Film yang berdurasi 3 jam ini (disarankan tidak menontonya
jika tak tertarik dengan bisnis pasar modal, di jamin tertidur) adalah cerita tentang kehancuran dan keserakahan.
Keinginan untuk mendapatkan uang ternyata tak ada batasnya. Tapi, bagi saya, film ini (tepatnya perjalan
hidup Belfort) sekaligus mengofirmasi kebenaran adagium : uang tidak bisa
membeli kebahagiaan. Tepatnya, pada satu
titik, uang tidak bisa (lagi) menambah kebahagian.
Sebuah penelitian menemukan bahwa hubungan antara uang dan
kebahagiaan mengikuti ‘hukum pertambahan yang berkurang (the law of diminishing
return) bentuk kurva normal atau biasa juga disebut sebagai kurva lonceng atau
kurva U terbalik. Pada sisi kiri kurva,
uang menentukan kebahagiaan. Semakin banyak uang yang dimiliki semakin
bertambahan kebahagiaan Anda. Penelitian lain menemukan bahwa pendapatan
minimal untuk menerapkan : uang tidak bisa membeli kehabagiaan adalah sekitar
Rp 1 juta rupiah per bulan untuk seorang lajang.
Lalu dimanakah di kurva tadi posisi uang tak menentukan
kebahagiaan? Di sisi kanan setelah kurva mencapai puncaknya. Pada titik ini,
tambahan uang memang bisa membeli mobil lagi atau rumah lagi tapi mobil dan
rumah itu tak membuah pemiliknya bertambah bahagia.
Nah, itulah yang dialami Belfort. Uangnya yang berlimpah tidak membuat dia bertambah bahagia. Malah kehidupan rumah tangganya
hancur. Belfort yang setelah keluar dari
penjara menjadi seorang motivator pasti menyadari betul hukum kurva U terbalik
itu.

Comments
Post a Comment