Berjalan Di Atas Air, Sebuah Movel
Pengantar
Cerita dalam tulisan yang saya publikasi mulai hari mungkin lebih tepat disebut sebagai memoar novel yang kemudian saya sebut MOVEL. Karena sifatnya itulah, maka sebagian dari cerita ini benar belaka, setidak-tidaknya empat tokohnya benar-benar nyata, dan sebagian lagi rekaan.
Tulisannya diupload bersambung. Selamat menikmati.
Tabik
Rahman
Prolog
Bogor, pertengahan
tahun yang basah. Hujan semalam masih meninggalkan jejaknya di jalanan kota ini
pada awal pagi yang dinginnya menusuk nusuk kulit. Kabut tipis bercampur debu Gunung
Galunggung di Tasikmalaya yang meletus beberapa waktu sebelumnya masih menggantung
di atas Kebun Raya yang kesohor itu karena koleksi tanamannya puluhan ribu terpelihara
baik meski usianya sudah ratusan tahun sejak dibuat Belanda dulu. Letaknya yang berada di jantung kota Bogor tidak
saja menjadikan Kebun Raya sebagai hiasan indah, melainkan juga menjadi peneduh
bagi siapa saja yang lelah berjalan dan ingin merebahkan diri melepas penat di
bawah pohon-pohonnya yang berakar raksasa dan menjulang tinggi puluhan meter.
Di pingir-pinggirnya, di trotoar yang mengelilinginya, berjejal mulai dari
penjual talas, sayur mayur, kelinci dan warung soto kuning hingga toge goreng. Biar pun di sana sini bau pesing beraroma buah pete, khas
daerah Jawa Barat, yang menyengat hidung toh trotoar ini
masih menjadi pilihan utama pelancong untuk membeli buah tangan atau sekadar
berjalan-jalan makan angin.
Kendaraan ber-roda tiga dengan bentuk kepala menyerupai
hidung pesek, bemo, yang menjadi ciri khas Bogor sudah sibuk lalu-lalang mengantar mahasiswa yang ingin
kuliah. Mobil aneh dengan nama yang
tidak kalah anehnya pula -- (tak ada yang berani memastikan dari mana asal
muasal nama bemo, mungkin maksudnya becak mobil) -- merajai jalanan kota Bogor.
Diproduksi oleh perusahaan otomotif Daihatsu dan didatangkan dari Jepang pada
awal Orde Baru dengan teknologi ‘dua langkah’ membikin kotor udara karena bahan
bakarnya campuran dengan oli sehingga asap tebal keluar dari knalpot bersama
suara bisingnya yang mengganggu. Dengan panjang dua meter lebih sedikit dan
lebar satu meter, sepertinya semeter lebih, membuat lutut enam penumpangnya yang berjejal
di belakang saling beradu sehingga banyak wanita menghindari memakai rok,
terlebih rok mini, jika menggunakan kendaraan ini. Karuan para perempuan itu
risih.
Hatta, dengan bemo-lah lelaki muda ini, Asso, menuju kampus Institut
Pertanian Bogor yang akan menjadi tempatnya bergulat dengan ujian tiap hari
Sabtu untuk beberapa tahun ke depan. Berdiri
megah di tepi jalan menghadap Kebun Raya dengan cat hitam dan putih di
temboknya yang terbuat dari batu alam pilihan, halaman yang luas nan hijau, gedung
berlantai dua itu tampak angkuh dan mengintimidasi bagi siapa saja yang pertama kali melihatnya. Tidak terkecuali Asso yang tampak canggung dan
malu-malu berdiri mematung di depan kampus ini sejak beberapa jam yang lalu.
Dia tidak segera memasuki kampus. Ingin dia nikmati dengan seksama, dari posisi
berdiri yang agak jauh, suasana kampus
dimana kelak dia akan menghabiskan hari-harinya. ‘’Saya amat
beruntung,’’ pikir anak muda itu. Tapi sejurus kemudian dia tersenyum kecil
sambil beguman, ‘’beruntung agaknya istilah yang peyoratif, menghina kemampuanku.’’
Meski begitu, tak diragukan lagi, berdiri di depan pintu
masuk perguruan tinggi tersohor ini, di pagi ini, masih seperti mimpi. Beberapa
hari sebelumnya dia masih berjarak enam
jam perjalanan darat ditambah tiga hari dua malam dengan kapal laut dari Bogor.
Dunianya berjalan dengan kecepatan penuh, dalam beberapa hari ini. Apakah ini
terlalu sempurna untuk menjadi kenyataan? Orangtuanya, pun karib-karibnya, tak
menyangka dia nekad pergi jauh dari tanah kelahirannya. Sebab selama ini, dia
memperlihatkan sikap tak ada yang lebih dia cintai melebihi kampungnya. Meski
tidak melulu seperti itu.
Perasaannya masih tak menentu. Campur aduk antara bahagia dan
khawatir. Bahagia karena lamaran bebas test-nya diterima padahal nila rapornya
bukanlah yang terbaik, meski juga bukan yang terendah dari lima besar. Bahagia
karena dialah satu-satunya siswa dari sekolahnya yang melanjutkan pendidikan di
Jawa. Khawatir sebab tak terbayang apakah dia mampu menyesaikan pendidikan. Di
kampus ini berkumpul mahasiswa dengan talenta terbaik dari berbagai daerah di Indonesia,
dan anak muda ini bukanlah siapa-siapa. Sistem perkuliahannya terkenal kejam
dengan memakai sistem drop out. Mahasiswa yang tidak memenuhi strandar nilai
tertentu tanpa ampun akan dikeluarkan. Tidak ada belas kasihan, meski baru
setahun kuliah. Bila beruntung, mungkin
istilah ini kurang tepat, mahasiswa diberi kesempatan mengulang kuliah dari
awal lagi.
Di atas segalanya, kekhawatirnya lebih karena tak dapat
memastikan yang mana dari wejangan kakeknya yang dia sampaikan pada malam
sebelum berangkat yang akan menjadi kenyataan. Lamat-lamat terdengar suara sang
kakeknya, ‘’kejarlah takdirmu, apakah kamu keturunan labu atau keturunan batu.’’ Entah apa yang
kakeknya maksud, dia masih terlalu hijau untuk menafsir kalimat-kalimat
bersayap penuh makna itu.
Nasihat pendek yang enigmatik itu sekarang mengambang memenuhi
udara Bogor. Dia berusaha sekuat tenaga mengenyahkan sang kakek dari pikirannya
dan memfokuskan diri pada apa yang akan dia temui di dalam kampus. Tapi rasanya
begitu sulit. Suara berat kakeknya itu tetap saja terngiang. Dia tak menyangka
ucapan itu menempel begitu lekat dalam memorinya, seperti dipaku. Padahal,
biasanya, dan itu lebih sering, ingatannya sama fananya dengan dunia ini. Sekonyong-konyong
terbayang kembali sang kakek, duduk bersila di atas sajadah lusuhnya dengan
satu tangan memegang tasbih, satunya lagi memegang tangannya, selepas isya di ruang
tengah rumahnya yang diterangi lampu teplok. Meski listrik sudah masuk sejak satu tahun lalu, kakeknya lebih merasa nyaman
dengan lampu minyak tanah yang sumbunya dibuat dari kain rombeng.
‘’Pergilah…,’’ kata kakeknya. ‘’Bayangkan dalam pikiranmu
kita masih akan bertemu sebelum salah satu diantara kita kembali ke yang
Kuasa.’’
Asso berusaha mengumpulkan keberanian untuk mengatakan, ‘’umur
kita, saya dan kakek’’- dia berhenti sebentar mencoba mencari frasa yang tepat – ‘’akan cukup panjang untuk kita bersua
kembali.’’ Meski sudah berusaha keras untuk tidak terdengar gamang, suara Asso
tetap bergetar. Tarikan nafasnya, walaupun sudah dia kendalikan sedemikian
rupa, tetap saja seperti gelegar petir dalam keheningan. Momen perpisahan seperti
ini amat menyiksa.
Neneknya, duduk agak dibelakang di atas sajadah yang terbuat
dari daun pohon lontar yang sudah berubah warna menjadi coklat tua dimakan usia
dan di beberapa pinggirannya sudah robek, sedari tadi sudah tak sanggup menahan
air matanya (padahal dia wanita tidak mudah menangis) Besok, cucu yang dia
besarkan sejak berumur sepuluh tahun hingga kini berusia lebih dari 17 tahun,
akan pergi. Perasaan yang sama ketika suaminya akan pergi berlayar kini muncul
lagi. Mengingat umurnya yang sudah tua,
dia takut tak bisa bertemu lagi dengan Asso. Dia menarik sang cucu ke
pelukannya, mendekapnya erat-erat seperti memeluk bayi yang tak ingin dia
lepas, lalu mengecup keningnya berkali-kali sambil berbisik, bacalah doa ini,
doa yang juga diberikan orantuaku, dulu, yang juga berasal dari orangtuanya.
‘’Sibana bana kepana bisa, bismilah.’’ Doa berbahasa apa gerangan ini? Nantilah, sekarang bukan waktunya
bertanya. Setelah kakeknya, kini neneknya menambah rumit pikiran Asso dengan
doa yang tak biasa itu.
Asso terdiam. Bukan karena permintaan kakeknya untuk
membayangkan dalam khayalannya pertemuan mereka kembali. Pun bukan karena doa
sang nenek yang dia wariskan kepadanya. Bukan, bukan semua itu. Melainkan pada fakta
dalam beberapa jam lagi, saat matahari terbit, dia akan meninggalkan dua orang yang
selama ini telah menempanya - dalam semua pengertian. Air matanya mulai
mengambang di pelupuk matanya.
Terlintas lagi wajah sahabat-sahabatnya, seperti film yang
ditayangkan dalam gerakan lambat. Selle yang brilian tapi polos, Minna yang
cantik dan cerdas - percampuran sempurna untuk seorang wanita yang bikin iri
gadis-gadis di sekolahnya. Berkelebat lagi Inna yang selalu mempesona dengan
gigi ginsulnya, tipe kecantikan wanita yang selalu memberi daya tarik fisik
bagi lelaki. Muncul pula Aggus, si pembual bermulut besar. Teringat lagi malam
perpisahan sederhana di halaman SMA yang tak kalah sederhananya (satu-satunya sekolah
menengah atas di kecamatan itu, kecamatan Mare yang sebagian besar penduduknya
bertani dan berdagang, dalam radius 70 kilometer yang menjangkau lima wilayah
di sekitarnya) yang diakhiri dengan ikrar: pergi
untuk pulang berjaya. Malam itu mereka tak melihat satu pun alasan yang
begitu meyakinkan untuk percaya bahwa janji itu akan terwujud. Tapi kalimat
itu, dengan cara yang aneh, telah berubah menjadi mantra ajaib yang memberi
dorongan energi optimisme: bila punya keinginan, kamu harus mengusahakannya.
Mereka berjanji untuk bertemu kembali, di tempat yang sama, paling lama lima tahun
kemudian. Sebagai pemenang, bukan sebagai pecundang. Bangunan sekolah boleh
sederhana -- mungkin kosakata ini tidak tepat, sebab sebagian bangunan sekolah
ini ada yang lumayan bagus tapi yang lain seperti baru diinvasi mahluk luar
angkasa -- kualitas pengajaran boleh lebih rendah dibanding dengan mereka yang
bersekolah di kota-kota besar tapi itu semua tak membikin nyali mereka ciut.
‘’Sebaiknya kita meneguhkan tekad,’’ kata Inna yang selalu
paling percaya diri, ‘’Untuk menjadi yang terbaik dalam sejarah sekolah kita.’’
Dalam suasana malam yang seperti itu, kalimat Inna, entah bagaimana, terdengar
seperti jampi-jampi yang merasuki jiwa-jiwa mereka. Aggus yang biasanya ngocol dan slengean, malam itu, tumben,
terlihat tawadhu. Sulit untuk menerka
apa yang berkecamuk dalam otaknya, sebab biasanya dia tak bersedia melewati
hari dalam suasana murung. Selle, seperti biasa, lebih banyak berpikir daripada
bicara, tipe orang-orang yang kelewat pintar. Akan halnya Minna, malam itu
tampil sempurna dengan rambut panjangnya, memakai sepatu kets dan baju putih dari bahan katun yang dipadu dengan rok
sedengkul berwarna khaki yang memperlihatkan tungkainya yang panjang menopang
tubuh jangkungnya. Dengan wajah tanpa polesan make up serta sapu tangan merah yang dililitkan di leher, dia seakan-akan
sudah mempersiapkan diri untuk memamerkan semua kemanisannya sebelum berpisah
dengan kawan-kawannya. Tarikan wajahnya memperlihatkan ada sesuatu yang ingin
dia katakan kepada Asso tapi tertahan di ujung lidahnya. Entah apa gerangan.
Mereka berpelukan dengan singkat sekali, suatu cara
berpelukan untuk menghindari larut dalam perasaan sedih. Tapi Inna tidak
begitu. Ia menggunakan kesempatan itu untuk mengungkapkan perasaanya kepada
Asso bahwa dia akan kehilangan. Asso menatap matanya lekat-lekat dan mengirim
isyarat kimiawi yang hanya bisa dirasakan oleh mereka berdua. Asso hendak
berkata, ‘’aku tahu apa yang kamu pikirkan,’’ tapi mendadak dia urungkan sebab
tiba-tiba dia merasakan sesuatu, mungkin semacam firasat. Tentang apa? Tentang
masa depan. Masa depan mereka berdua.
Tapi seperti apa, dia tak bisa mengungkapnya, hanya bisa merasakannya.
Malam sudah cukup tua ketika lima sekawan ini meninggalkan halaman
sekolah, pulang membawa perasaan masing-masing. Bulan setengah di langit yang
bersinar malu-malu menambah suram suasana. Tak ada yang bicara selama perjalanan.
Hanya terdengar suara sepatu mereka menginjak bebatuan. Masing-masing tenggelam
dalam momen personal yang hening. Di pengkolan jalan, tempat anak-anak muda
suka berkumpul yang biasanya mereka sebut panyingkulu,
sebelum berpisah ke jalan menuju rumah masing-masing, mereka berhenti
sesaat. Saling memandang dalam keremangan sinar bulan, tak ada yang bersuara,
sunyi, kelimanya pun berbalik badan. Lalu, seketika, Inna menerjang berlari ke
arah Asso kemudian berbisik dengan nada suara tertahan, seperti ada sesuatu di
rongga mulutunya yang membuat lidahnya sulit digerakkan, ‘’saya tidak ingin
kamu menjadi lelaki pertama yang membikin saya menangis.’’ Secepat dia datang,
secepat itu pula Inna berlalu meninggalkan Asso yang masih terbengong-bengong.
Sepanjang jalan, Asso dihantui kalimat terakhir Inna itu. Dari semua mahluk
imut yang Asso kenal, Inna-lah yang paling cuek
dan kocak, tepatnya dia memiliki selera humor yang keren, kenapa malam ini dia mendadak sentimental? Ternyata, ada
ruangan-ruangan dalam hati wanita yang tertutup selamanya yang tak mungkin diintip
orang lain.
Selle dan Minna mendapat bebas test di universitas ternama di
Ujung Pandang - kota yang menjadi impian banyak anak muda dari kampung. Aggus
yang bercita-cita menjadi pendidik, kuliah di peguruan tinggi calon guru. Inna?
Sang pemberontak ini memilih ke
Surabaya.
Apakah Asso,
dan kawan-kawannya, keturunan labu? Atau batu?
(Bersambung ke Bagian 1)
Comments
Post a Comment