Film Siti dan Perempuan yang Pingin Pipis

 

‘Arep nguyuh.’’

Saya memutuskan, tanpa ragu sedikitpun, untuk menonton film Siti, segera setelah diumumkan akan ditayangkan di bioskop, akhir Januari  2016. Bukan karena lama tidak menonton film, maksudku film Indonesia, juga bukan karena sedang tidak ada kerjaan, terlebih karena iseng-iseng belaka. Bukan, bukan karena semua itu. Saya melangkah ke bioskop dengan pasti setelah membaca bahwa film ini diganjar begitu banyak penghargaan di luar negeritermasuk sebagai Film Terbaik FFI 2015. Tidak banyak, sepanjang yang saya ingat, film Indonesia yang mendapat perhatian dan terlebih penghargaan di luar negeri akhir-akhir ini. Saya ingin melihat seperti apa gerangan film yang laku di festival-festival film di luar negeri itu.  

Film yang awalnya dibuat indie dan memang dimaksudkan untuk ikut festival film ini, harus diakui, jauh lebih greget melampuai biayanya yang murah meriah untuk ukuran sebuah film (Rp 150 juta). Meski tema yang diangkat tidaklah istimewa-istmewa amat, dalam pengertian mudah dijumpai di sekitar kita, tetap saja film ini menggugah kesadaran kita tentang perempuan dan realitas kehidupan ekonomi masyarakt saat ini. Narasi tentang kemiskinan dan peran perempuan dalam kehidupan ekonomi rumah tangga serta keterpasungan wanita (Jawa) di dalamnya dengan gampang kita temui di negeri ini, tapi Edy Cahyono, sang sutradara, berhasil membuatnya istimewa. Penggambaran hitam putih, disaat kita sudah terbiasa melihat dunia digital yang berwan warni, juga membuat penonton, setidaknya saya, merasa terintimidasi. Saya tidak punya pilihan selain memaknai Siti dengan dua pihan warna itu. Hidup siti, dan Siti yang lain dalam kehidupan sehari-hari, memang tidak berwarna. 

Hatta, Siti yang diperankan dengan sangat keren oleh Sekar Sari yang ternyata ini adalah debut pertamanya, harus membanting tulang membuat periuk nasinya berasap setelah suaminya, Bagus (Ibnu Widodo) lumpuh akibat kecelakaan saat menangkap ikan. Menghadapi situasi yang tidak memberinya banyak pilihan, setelah utang suaminya yang sudah menunggak harus dibayar, Siti mencari penghasilan dengan menjadi pemandu karaoke di sekitar kampunya di Parangtritis. Tapi jalan keluar yang dipilih Siti tidak direstui sang Suami dengan cara tidak mau bicara kepada sang istri. Bagus hanya diam seribu bahasa jika diajak bicara (bahkan melihat Siti pun tak). Anehnya, Siti yang dilecehkan eksistensinya sebagai istri dan terutama sebagai manusia itu tak sedikitpun luntur pengabdiannya pada suami. Siti mereflesikan dengan sangat sempurna gambaran perempuan (Jawa) dalam kehidupan rumah tangga yang tunduk patuh dan berserah diri pada suami. 
Dalam situasi yang terdesak karena deadline untuk membayar utang suaminya sebesar Rp 5 juta (sebuah nilai yang teramat besar untuk ukuran strata ekonomi kelas bawah), Siti harus memutar otak untuk mendapatkan uang. Dan, pada malam sebelum tenggat waktu itu berakhir, polisi yang diperankan Haydar Saliz yang tergila-gila denganya bersedia membantunya.  Masalahnya, sang polisi (Gatot) tidak hanya tergila-gila tapi ingin megawaninya dan meminta Siti menceraikan suaminya. Setelah Gatot mengungkapkan keinginannya itu, beban Siti bertambah berat yang mungkin lebih berat dari utang suaminya. 

Dan, jika Siti menghadapi beban seperti ini, satu-satunya ruang privat baginya adalah kamar mandi. Di tempat sempit inilah dia merayakan kemerdekaanya yang nyaris sepanjang hari terenggut. Di ruang pesing inilah satu-satunya dimana dia bisa merayakan hidupnya dengan menarik sang polisi masuk ke dalam untuk berciuman.  Saat karaoke tempatnya bekerja dirazia polisi, Siti memilih ke kamar mandi. Polisi yang mengejarnya hanya mendapatkan jawaban ini: “Arep nguyuh!” (mau kencing)
Pun begitu ketika Gatot memaksaknya menjawab apakah menerima pinangannya, Siti memilih ke kamar mandi. Gatot yang terbengong-bengong hanya menerima jawaban yang sama, “arep nguyuh.”

Meski lokasi pengambilan gambar hanya berkisar di rumah dan ruang karaoke, film ini berhasil membuat saya terpaku. Satu-satunya yang menghalangi saya menikmati film ini secara utuh adalah dialognya yang menggunakan bahasa Jawa. Saya kehilang kesempatan untuk merasakan nuansa yang seharusnya didapatkan disetiap dialog andaikan saya mengerti bahasa Jawa. Terjemahan tidak bisa menjawab kebutuhan kita itu. Itulah penjelasan kenapa cerita-cerita lucu dari daerah, yang membuat kita tertawa terpingkal pingkal jika disampaikan dalam bahasa daerah tapi tidak demikian ketika diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia.

Coba simak dialog ini
Ibu mertua Siti: Gusti Allah mboten sare
Siti: ora sare ning seh piknik
Terjemahkanlah dialog ini, maka kita tidak menangkap nuansa lucu dan philosofinya.

Jakarta, 1 Februari 2016

Comments

Popular posts from this blog

Perjalanan Ini (1)

Puisi Cinta Sastrawan Besar

Berdusta Dengan Statistik