Totto-chan dan Kerinduan pada Masa Kanak-kanak


“Jangan mati dulu sebelum membaca novel ini,” ujar Helvy Tiana Rosa pada acara pelatihan menulis kreatif yang diadakan kantor saya belum lama ini. Helvy merujuk novel Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela




Saya nyaris tertawa, jika saja tidak mengingat bahwa itu di dalam kelas, mendengar ucapan Helvy itu. Apa yang hebat dari novel ini, sampai-sampai seorang penulis sekaliber Helvy merekomendasikannya. Saya sudah melihatnya dipajang di toko buku ketika pertama kali diterjemahkan dua tahun silam. Boro-boro membacanya, melirik pun tak. Sampulnya saja tidak menarik minatku, gambar grafis anak-anak, apalagi membelinya.

Tapi karena Helvy mengatakan itu sedemikian rupa menyakinkannya, saya pun ke toko buku membelinya. Astaga, saya salah sesalah-salahnya. Melanggar petuah lama: jangan menilai buku dari sampulnya. Saya benar-benar, secara harfiah, menilai buku dari sampulnya. Buku ini, harus kuakui, keren. Helvy benar belaka.

Saya bukan pecinta novel anak-anak atau tentang masa kanak-kanak. Sejak di bangku SD saya sudah dicekoki oleh orangtua saya novel-novel orang dewasa. Saya mengingat, ketika kelas satu SMP, ibuku sudah ‘memaksa’ saya membaca roman percintaan yang mengharu biru antara Zainuddin dan Hayati dalam Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Mungkin karena itulah novel anak-anak tidak menarik buat saya. Tapi, semua ketidaktertarikan saya itu sontak hancur setelah membaca novel Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela.

Kekuatan Totto-chan, yang merupakan karya pertama Tetsuko Kuroyanagi, terletak pada setidaknya dua hal: pertama-tama dan terutama kesederhanaan tema dan gaya penuturannya. Kedua, novel dibuat tematik yang seakan-akan cerita pendek yang digabungkan menjadi satu.  Ini mirip buku harian seorang anak yang faktanya memang diary sang penulis sendiri.

Novel ini bercerita tentang masa-masa sekolah (SD) penulisnya yang memiliki sistim pendidikan yang berbeda pada umumnya dimana kurikulum dibuat sedemikian rupa sehingga sangat menyenangkan (bandingkan dengan kurikulum SD sekarang ini yang membuat anak-anak stress). Gedung sekolahnya saja dari gerbong kereta api bekas.
   
Mungkin karena kerinduan akan masa kanak-kanak yang setiap hari dilalui dengan keceriaan itulah yang membuat novel ini laku keras dan diterjemahkan dalam banyak bahasa. Di Indonesia sudah dicetak untuk kelima kalinya sejak 2013. Penulisnya diangkat oleh PBB menjadi duta UNICEF.

Jakarta, 7 Desember 2015

  

Comments

Popular posts from this blog

Perjalanan Ini (1)

Puisi Cinta Sastrawan Besar

Berdusta Dengan Statistik