(mural di salah satu sudut kota ini adalah kutipan dari puisi patah hati Chairil Anwar. Saya minta maaf kepada fotografernya karena tidak bisa minja ijin) Saya bukan pengikut “idiologi” hari valentine. Pun tidak mengakuinya sebab bagi saya, setiap hari adalah hari kasih sayang. Kita bisa mengungkapkan perasaan sayang dan cinta kita kapan saja. Meski begitu, tak berarti saya tidak menghormati mereka yang berseberangan dengan saya, bahkan pada bulan Februari ini, saya secara khusus ingin memberi “kado” tulisan tentang cinta. Maksud saya, saya memilihkan puisi cinta yang ditulis oleh penyair tenar yang selama ini mungkin dikenal hanya menulis puisi-puisi serius. Puisi-puisi mereka ditulis dengan diksi yang mengharu biru yang, meminjam istilah anak jaman sekarang, galau habis. Membaca tulisan mereka, kita akan sampai pada kesimpulan bahwa urusan cinta, kasih sayang, patah hati, bukan monopoli anak muda atau penulis teenlit. Cinta adalah urusan universal. Bahka...
Comments
Post a Comment