Nama dan Kesuksesan (Bagian Terakhir dari Dua Tulisan)
Pertama-tama dan terutama saya harus minta maaf telah dengan
sengaja tidak segera menulis bagian kedua dari tulisan bersambung mengenai
Nama-nama Khas Indonesia. Sejujurnya
bukan karena tidak punya waktu,
melainkan sebaliknya. Waktu yang
tersedia begitu berlimpah, tapi otak saya tak mau dipaksa berpikir yang agak
serius. Entah kenapa, tapi memang ada
saat dalam kehidupan kita, kita hanya mau leyeh-leyeh saja sepanjang hari.
Baiklah kita sambung diskusi kita mengenai nama. Tahukah Anda bahwa saat ini penamaan bayi
telah berubah menjadi industri. Coba perhatikan begitu banyak buku ditulis,
begitu banyak portal dibuat, dan begitu banyak konsultan tentang nama bayi
muncul. Semua itu memanfaatkan satu hal: otoritas tanpa tandingan orangtua
memberi nama kepada bayinya yang terkadang aneh-aneh. Banyak contoh orangtua memberikan nama
kepada anaknya secara serampangan. Dan karena sang bayi tak memiliki kemampun
fisik dan politik untuk menolak, nama yang aneh-aneh itu akhirnya dituliskan di
akte lahir. Di beberapa negara di
kawasan Skandinavia, orangtua punya kebiasaan memberi nama aneh kepada
anakanya. Perhatikan nama ini:
Brfxxccxxmnpcccclllmmnprxvclmnckssqlbb11116 (diucapkan albin)
Ini
adalah nama yang diberikan orang tua Swedia kepada anaknya yang tak berdaya
menolak pemberian orangtuanya itu. (Orangtua seperti apakah yang memberikan
nama sangat khas ini) Pengadilan terpaksa mendenda orang tua anak ini karena
nama yang tak lazim itu.
Di
Selandia Baru, sepasang orantua memberikan nama bayinya yang baru lahir dengan
nama : 4real (mungkina orangtua ini agak 4lay ya, sehingga terbawa-bawa saat
memberikan nama anaknya). Di Negara ini, orang tua yang memberi
nama anaknya yang tak lazim, sesuai undang-undang, tak akan dikabulkan. Dan,
angka di depan nama termasuk salah satu yang dinilai aneh.
Di New York, seperti ditulis Steven D.
Levitt dan Stephen J. Dubner dalam bukunya Freakonomics melaporkan, sepasang
suami istri memberikan nama anak laki-lakinya dengan Loser (pecundang). Entah
apa yang di kepala sang orangtua saat memberikan nama anaknya ini. Saya yakin mereka tidak menginginkan anak ini
jadi seorang yang kalah dalam hidup, sebab beberapa tahun sebelumnya, keluarga
ini mendapatkan bayi laki-laki juga yang mereka beri nama Winner (juara).
Masih di New York, seorang anak perempuan diberi nama Temptress
(penggoda). Kita juga pasti tak bisa
mengerti kenapa orang tuanya memberi nama seperti itu? Apakah memang orang
tuanya membayangkan bayi kecil ini akan menggoda setiap pria?
Faktanya apakah Winner benar-benar jadi
juara, Loser jadi pecundang dan Temptress benar-benar jadi penggoda
lelaki. Temptress, entah kenapa, dia
memang jadi penggoda banyak pria, akan tetapi si Winner justru tidak pernah
menang karena hari-harinya lebih banyak dihabiskan di balik jeruji besi
penjara. Sebaliknya, si Loser, malah jadi juara, mendaptkan bea siswa dan sekarang
ini bekerja sebagai polisi detektif.
Tapi apakah dengan contoh kasus di atas
bisa disimpulkan bahwa nama memiliki pengaruh terhadap kesuksesan? Dalam banyak penelitian, ditemukan bahwa, suka
tidak suka, nama memiliki pengaruh terhadap keberhasilan dalam mendapatkan
pekerjaan. Pengaruh pertama nama atas
keberhasilan Anda mendapatkan pekerjaan dimulai saat panitia seleksi karyawan
baru mulai menyeleksi orang yang akan dipanggil ikut test. Nama dengan nilai
estetika tertentu memiliki peluang tertinggi untuk dipanggil mengikuti
wawancara.
Apakah Anda pernah jadi panitia seleksi
karyawan baru? Saya beberapa kali melakukannya dan saya bisa mengonfirmasi hasil
penelitan tadi. Jadi, benar belaka kata orang bijak bahwa nama adalah doa.(***)

Comments
Post a Comment