Pemilu dan Suara Tuhan




Apakah Anda sudah punya pilihan pada Pemilu nanti? Bila belum, jangan khawatir, ada banyak orang seperti Anda, tidak terkecuali saya. Sangat manusiawi jika kita sulit menentukan pilihan disaat alternatif yang tersedia begitu berlimpah.  Terlebih jika pilihan yang ada nyaris sama dan sebangun. Itulah yang kita hadapi pada Pemilu legislatif pada 9 April ini. Lalu bagaimana cara menentukan pilihan?

Sebelum berbicara tentang cara menentukan pilihan, baiklah kita dudukan dulu perkara memilih ini pada kursinya. Pertama-tama dan terutama, harus dipahami bahwa memilih adalah hak Anda. Dan, karena hak maka tersedia dua pilihan: memakai atau tidak memakaianya.  Tidak ada hukum yang Anda langgar jika tidak memakai hak memilih Anda tadi.  Tetapi Anda harus tahu konsekuensinya jika tidak memakai hak memilih Anda yakni: Anda tidak ikut menentukan siapa yang akan memimpin negara ini lima tahun ke depan.

Nah, sekarang kita mulai bicara pilihan.  Jumlah parpol peserta Pemilu 2014 sebanyak 15, masing-masing 12 parpol nasional plus 3 parpol daerah di Aceh. Jumlah yang banyak ini membikin kita mumet menentukan pilihan karena, itu tadi, pembedanya nyaris tidak ada.  Ideologi atau platform partai yang satu dengan yang lainnya hampir sama kalau tidak mau mengatakan kembar. Coba perhatikan baik-baik. 

Situasi sebaliknya terjadi di luar negeri. Partai-partai politik di sana memiliki perbedaan yang mendasar dengan pengelompokan idiologi yang kira-kira begini: partai pro liberalisme (yang menyerahkan sepenuhnya masalah sosial dan ekonomi kepada pasar) dan partai lawannya memilki idiologi sosialisme (yang percaya bahwa pemerintah harus turut campur dalam masalah ekonomi dimana mereka memberi perlindungan kepada warganya dalam bentuk subsidi). Spektrumnya cukup luas, misalnya, yang sosialisme, ada yang sangat kiri (komunisme dan anarkisme) tapi ada juga yang, kiri tengah (seperti pemain bola aja hahahaha). Begitu pula dengan yang liberalism. Ada yang sangat kanan dengan tanpa campur tangan pemerintah sama sekali dimana kekuatan capital (kapitalisme) yang menentukan.  Begitu pula ada kanan tengah yang tidak pro pasar sepenuhnya.

Di Indonesia, jika kita lihat program-program partai, kelihatannya sih semuanya bisa digolongkan di sosialisme, fakta bahwa dalam menjalankan pemerintahan mereka pro pasar, itu membuktikan bahwa parpol kita tidak memiliki akar idiologi yang kuat.  Pada titik inilah Anda mungkin bingung menentukan pilihan.

Jadi, cara terbaik untuk menentuan pilihan partai adalah:
1.    Apakah partai itu mengumumkan secara terbuka programnya.
2.    Periksa kecenderungan idiologinya dari program-program yang dipublikasikan.
3.    Siapa yang mereka calonkan jadi presiden.

Hanya karena mereka mengumuman programnya tidak berarti mereka akan menjalankannyan kelak kalau berkuasa, tapi setidak-tidaknya Anda punya bukti tertulis untuk bisa menagihnya kelak. Perhatikan apakah programnya sesuai dengan keinginan Anda.

Untuk point kedua, saya katakan "kecenderungan" idiologi karena seperti saya katakan tadi, tidak ada partai yang memiliki dan mengatakan secara terang benderang idiologi politiknya.  Jadi, jika kecenderungannya sesuai dengan idiologi Anda, maka aspirasi politik Anda bisa terwakili.

Akan halnya yang disebut terakhir itu peting sebab menurut UU tidak semua partai bisa mencalonkan presiden. Ada batas minimal perolehan kuris di DPR atau suara nasional yang harus dipenuhi agar bisa mencalonkan sesorang jadi presiden.  Dengan demikian apabila Anda “kecantol” dengan seorang yang akan jadi calon presiden, Anda sebaiknya memilih partainya agar bisa masuk kategori “kuota” tadi yang istilah teknisnya disebut presidential threshold.  Jumlahnya  memperoleh 20% kursi di DPR atau 25% dari suara sah nasional. Ini bukan perkara mudah untuk mendapatkannya, sehingga diperkirakan mereka akan berkoalisi.

Anda sudah memiliki bayangan partai yang akan dipilih? Pertanyaannya sekarang adalah siapa orang dari partai itu yang akan dicoblos?  Ini pekerjaan tersulit kedua sebab tidak semua profil calon legislatif itu kita ketahui. Jika ada, eh…daerah pemilihannya tidak pas dengan tempat tinggal Anda. Apa yang harus dilakukan?

Kalau tiak mau repot-repot mencari tahu siapa saja calon yang diajukan, ikuti saja nasihat kawan saya  yang menganjurkan pilih saja nomor urut satu. Pertimbangannya, pasti dia orang yang diunggulkan oleh partai itu untuk menjadi anggota dewan.  Apakah itu betul? Wallahualam. Bisik-bisik tentang bagaimana proses penentuan nomor urut di satu daerah pemilihan banyak “horornya”.


Ini memang bukan memilih kekasih yang ingin kita kawini seumur hidup.  Mencoblos itu mirip kontrak bisnis, yang kalau mengecewakan, kita bisa tinggalkan lima tahun mendatang. So,  Anda punya pilihan untuk memperbaikinya jika salah pilih.  Kata orang bijak: vox populi, vox dei (suara rakyat, suara Tuhan). Andalah yang menentukan mereka, bukan sebaliknya. (***)

Comments

Popular posts from this blog

Perjalanan Ini (1)

Puisi Cinta Sastrawan Besar

Berdusta Dengan Statistik