Cinta, Rindu, dan Hujan (di) Bulan Juni
Suatu
hari, belum lama berselang, ketika berada di toko buku, mata saya tertumbuk
ratusan novel remaja yang, pasti Anda sudah tahu, nyaris semua berkisah tentang
cinta. Selama ini, saya tak pernah berminat melintas di rak yang memajang
novel-novel remaja ini. Bukan karena saya tak suka, memang karena saya sudah
terlalu dewasa (untuk tak mengatakan tua) membaca novel anak-anak muda.
Hari
itu, karena sudah terlanjur berada di depan rak novel-novel yang selama ini saya
berusaha hindari, saya pun melihat-lihat sepintas. Saya terbelalak, ternyata
dunia sastra anak-anak muda ini sungguh berwarna. Saya tak menyangka (artinya
saya kurang gaul) jika novel-novel yang
biasa disebut teenlit begitu beragam dengan judul-judul yang catchy. Penulisnya pun seabrek alias tak
ada yang dimonopoli oleh satu atau dua nama top seperti pada penulis-penulis sastra
serius (saya tak tahu apakah istilah ini pas). Itulah dunia kebudayaan pop yang
cenderung anonim, instan, dan massal yang mengikuti pasar secara khaffah dengan
aturan dasarnya: tak ada yang boleh
memonopoli pasar.
Coba
simak judul-judul ini, dijamin Anda pasti akan terkesima, jika tidak berati ada
yang tak beres dengan Anda atau saya yang kelewat ekspresif: FLU, Folling Love With U, Ketika Cinta Punya Rasa, Cinta 4 Sisi, Udah
Putusin Aja, Catatan Hati, Sorry That I
Love You, Aku Cinta Bukan Permainan, Apa
Ya...Apa Hidup Ini Kan Lebih baik Dari Mimpi? Ini baru secuil, dan masih banyak lagi judul
yang langsung menarik perhatian.
Yang
hebat lagi adalah apa yang disebut dalam dunia jurnalistik sebagai teaser.
Benar-benar menggoda, perhatikan ini: Mencintaimu
memang menyakitkan tapi hanya itu yang kubisa. Jika mencintaimu adalah
kesalahan, maafkan aku. Cinta hanya bisa
dipahami hati. Pada akhirnya kita semua akan berpisah. Jika cinta kenapa ragu.
Kapan kubisa memenangkan hatimu.
Membaca
teaser-teaser itu kita langsung tersadar bahwa sastra remaja memiliki cirinya sendiri.
Kalimatnya khas dengan dialog-dialog yang lincah yang kadang diselipkan
bahasa-bahasa g4uL 4T4u 4L4y. Gw sebel
deh :(...baca novel remaja itu bikin kita g4lau. Patah hati mulu cin...btw,
Selena Gomes makin gemesin ya >.< , keren abis.
***
Kunjungan
saya ke toko buku yang berselang sehari sebelum bulan Juni itu sontak
mengingatkan saya akan tema cinta. Entah kenapa, bagi saya, Juni (dan bukan
Februari) selalu saya assosiasikan dengan cinta. Mungkin karena banyak fragmen
cinta dalam hidup saya terjadi pada bulan ini.
Di luar itu, salah satu puisi yang paling saya suka adalah puisi
berjudul: Hujan Bulan Juni. Karena itulah setiap kali memasuki bulan ini,
saya selalu (pasti) teringat puisi yang ditulis dengan sangat indah oleh
penyair Prof Dr Sapardi Djoko Damono ini. Bukan melulu karena awal hari di
bulan Juni adalah tanggal milad saya dan beberapa momen cinta saya juga jatuh
di 1 Juni, melainkan juga karena puisi ini memang sungguh menyentuh. Siapa saja
yang pernah jatuh cinta atau yang tengah kasmaran (yang tak lagi jatuh cinta
juga boleh) atau yang memendam rasa kangen tak tersampaikan, pasti akan merasa
terwakili oleh puisi ini. Sederhana, tidak bertele-tele, tapi pilihan diksinya
yang metaforis itu langsung membawa pembacanya masuk ke alam cinta yang mereka
rasakan. Coba resapi:
HUJAN BULAN JUNI
tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
1989
Menurut
saya, puisi ini tak lekang oleh waktu meski konteks waktu saat puisi ini
ditulis sudah tak relevan lagi karena saat ini bulan Juni, ternyata hujan masih
turun (perubahan cuaca ini memang menjengkelkan.) Padahal, saat puisi ini
ditulis, tahun 1989, pada bulan Juni hujan sudah tak turun. Saat itu adalah
musim kemarau. Metafora hujan itulah
yang ingin disampaikan penulisnya bahwa hujan di bulan Juni adalah mustahil dan
karenanya kalaupun turun pasti dia tabah, bijak, dan arif. Itulah rasa kangen yang tak terucap.
Seperti
pada puisi Aku Ingin yang juga
bertema cinta, Sapardi Djoko Damono lewat puisi ini ingin bercerita tentang
pasangan kembar cinta: rindu. Tema cinta
dan rindu ini tak pernah kering dijadikan sumber inspirasi para penulis. Apa
sih sebenarnya perasaan cinta dan kangen itu? Bagaimana keduanya bekerja dalam
hati dan pikiran kita? Jutaan definisi
sudah dibuat mengenai perasaan yang rumit ini tapi mungkin tak satupun yang dapat
menggambarkan dengan jelas bagaimana perasaan cinta dan rindu bekerja, bagaimana
cinta mengubah seseorang, bagaimana cinta membuat sesorang hidup dan bertahan,
sebaliknya sebagian yang lain membuatnya hancur dan mati. Cinta bisa
menyembuhkan, sebaliknya cinta juga bisa membuat seseorang menderita. Itulah
jebakan cinta.
Penyair
sekaliber Kahlil Gibran, bahkan harus tunduk dengan perasaan yang disebut cinta
ini. Cintanya yang tak sampai pada seorang wanita membuatnya patah hati dan
menderita. Dia menulis “Zelma (nama gadis yang di cinta) jika engkau kelak
berjalan di bawah pohon Zedar (seperti pinus yang tumbuh di daerah Timur
Tengah) dan menemukan kuburanku, di nisannya akan tertulis, Gibran meninggal
karena mengenangmu.”
Perasaan
yang remuk redam itulah yang mengispirasi pusinya yang berjudul: Saya-sayap
Patah. Tapi bukan puisi itu yang saya mau kutip di sini, melainkan puisinya
yang berjudul Puisi Patah Hati. Ini salah satu baitnya yang paling saya suka:
Kebahagiaan ada untuk mereka
yang menangis,
mereka yang tersakiti,
mereka yang telah mencari,
dan mereka yang telah
mencoba,
karena merekalah yang bisa
menghargai,
betapa pentingnya orang yang
telah menyentuh kehidupaan mereka.
Jakarta,
1 Juni 13
Catatan: boleh dong menulis dikit mengenai cinta :)
Comments
Post a Comment