Posts

Showing posts from December, 2013

Membeku

Siapa bilang waktu cepat berlalu, Di sini,di tempatku berdiri, waktu membeku, dan mematikan.  Ia menawanku hingga tak mampu beranjak, Sekeras aku berontak, sekuat itu pula ia membelenggu tubuh dan jiwaku. Serupa tahanan, aku terpenjara, dalam ruang dan waktu yang tak berpihak padaku, Aku tak bisa pergi, padahal ingin rasanya aku terbang ke kuil Dante, Bertanya padanya bagaimana ia bertahan dari rasa sakit Bagaimana ia menyembunyikan rasa yang tak kunjung padam Di sini aku terpendam, adakah yang bisa menolongku keluar dari belenggu ini?  Mungkin pada Beatrice Portinari, aku bisa berkeluh  kesah tentang harapan yg palsu, Tentang janji yg tak digenapkan Atau setidaknya memberikan kekuatan untuk lepas dari cengkraman masa silam, Bukankah dia telah ditasbihkan sebagai pelindung bagi mereka yang terluka Bandung, November 13

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Sumpah, Cinta Mati dan Karma (Ketulusan Cinta Seorang Pria)

Image
Saya kelas satu SMP ketika roman percintaan yang mengharu biru ini saya baca. Saya, awalnya, nyaris tak mau menyentuh buku ini, pertama-tama dan terutama karena tebalnya minta ampun dan kedua karena saya sudah menduga duluan tidak ada yang istimewa dengannya. Tapi, saya salah sepenuh-penuhnya. Saya telah melanggar petuah lama: jangan menilai buku dari sampulnya. Saya menilai buku, dalam pengertian sesungguhnya, benar-benar dari tampak luarnya.  Nyatanya novel ini luar biasa dibandingkan prosa lain pada masa kejayaan Pujangga Baru. Begitu berkesannya, sampai-sampai bukan saja judulnya lengket luar biasa di kepala hingga sekarang, tapi juga nama-nama tokohnya terus melekat dalam ingatan. Harus ku akui, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck adalah satu dari sedikit roman jaman dulu yang terus membekas dalam memoriku. Ini mirip lagu-lagu lama yang tak lekang oleh waktu ditengah serbuan lagu “instan” yang mudah dihafal tapi semudah itu pula hilang dalam kenangan kita, hilang tak berbekas. ...

Eat, Gowes, Path (Catatan Perjalanan #7)

Image
Pernah suatu masa, dulu, dulu sekali, saya tidak terlalu suka Bandung.  Bukan saja karena jalan-jalan di kota ini seperti liliput, juga karena menuju Bandung adalah perjuangan yang melelahkan melewati jalanan macet di Puncak.   Tapi, ketidaksukaan saya itu bukannya berubah menjadi lebih baik setelah ada jalan tol Purbaleunyi , malah menjadi kebencian.  Awal tahun hingga pertengahan tahun ini, entah kenapa, saya membenci Bandung. Kota ini seperti mengintimidasi saya, setiap kali saya berkunjung pada masa-masa itu. Lalu, mendadak, saya jatuh cinta dengan kota ini. Sama ketika perasaan benci itu datang, perasaan suka saya juga muncul tiba-tiba. Merasuk begitu saja, tanpa ba bi bu, seperti turun dari langit.  Dan, jangan tanya kenapa, karena saya pun tak bisa menjelaskannya.  Cinta, kadang-kadang, tak perlu ada alasan, sama seperti kita mencintai seorang wanita yang, dalam beberapa hal,  bisa datang begitu saja tanpa kita tahu kenapa. Ini seperti campuran...