Cinta, Rindu, dan Hujan (di) Bulan Juni
Suatu hari, belum lama berselang, ketika berada di toko buku, mata saya tertumbuk ratusan novel remaja yang, pasti Anda sudah tahu, nyaris semua berkisah tentang cinta. Selama ini, saya tak pernah berminat melintas di rak yang memajang novel-novel remaja ini. Bukan karena saya tak suka, memang karena saya sudah terlalu dewasa (untuk tak mengatakan tua) membaca novel anak-anak muda. Hari itu, karena sudah terlanjur berada di depan rak novel-novel yang selama ini saya berusaha hindari, saya pun melihat-lihat sepintas. Saya terbelalak, ternyata dunia sastra anak-anak muda ini sungguh berwarna. Saya tak menyangka (artinya saya kurang gaul) jika novel-novel yang biasa disebut teenlit begitu beragam dengan judul-judul yang catchy . Penulisnya pun seabrek alias tak ada yang dimonopoli oleh satu atau dua nama top seperti pada penulis-penulis sastra serius (saya tak tahu apakah istilah ini pas). Itulah dunia kebudayaan pop yang cenderung anonim, instan, dan massal yang mengikut...