Posts

Showing posts from May, 2013

Cinta, Rindu, dan Hujan (di) Bulan Juni

Suatu hari, belum lama berselang, ketika berada di toko buku, mata saya tertumbuk ratusan novel remaja yang, pasti Anda sudah tahu, nyaris semua berkisah tentang cinta. Selama ini, saya tak pernah berminat melintas di rak yang memajang novel-novel remaja ini. Bukan karena saya tak suka, memang karena saya sudah terlalu dewasa (untuk tak mengatakan tua) membaca novel anak-anak muda.   Hari itu, karena sudah terlanjur berada di depan rak novel-novel yang selama ini saya berusaha hindari, saya pun melihat-lihat sepintas. Saya terbelalak, ternyata dunia sastra anak-anak muda ini sungguh berwarna. Saya tak menyangka (artinya saya kurang gaul)  jika novel-novel yang biasa disebut teenlit begitu beragam dengan judul-judul yang catchy . Penulisnya pun seabrek alias tak ada yang dimonopoli oleh satu atau dua nama top seperti pada penulis-penulis sastra serius (saya tak tahu apakah istilah ini pas). Itulah dunia kebudayaan pop yang cenderung anonim, instan, dan massal yang mengikut...

Berdusta Dengan Statistik

Gallup, satu organisasi jajak pendapat yang membangun kredibilitasnya lewat pengalaman ratusan tahun, baru-baru ini terpaksa mengakui adanya kesalahan dalam metodologi jajak pendapat yang mereka lakukan pada saat pemilihaan presiden Amerika yang baru lewat. Bukan hanya itu. Mereka juga akan melakukan perbaikan tata cara pengambilan data. Sebulan sebelum hari pencoblosan pemilu Amerika, November 2012, jajak pendapat (tracking) Gallup menemukan calon presiden dari Republik, Mitt Romney, unggul 1 hingga 7 poin di atas rivalnya dari Demokrat; Obama. Sepuluh hari menjelang pemilu,  Gallup masih menempatkan Romney empat poindi atas Obama.  Kita semua tahu bahwa Obama menang yang dengan sendirinya meruntuhkan prediksi Gallup. Kesalahan dan pengakuan Gallup ini, meski tak mengagetkan, jelas merupakan sinyal bagi organisasi jajak pendapat bahwa mereka harus berhati-hati dalam membuat polling.  Namun, di atas segalanya, kesalahan prediksi ini sekaligus memunculkan kembal...

Pendidikan Bukan Sekadar Mengisi Ember

Sistem pendidikan kini mematikan daya pikir dan kreativitas anak-anak. Namun, poisisi lemah dan tak adanya pi lihan, membuat masyarakat—terutama yang lemah—menerima apa adanya. Pendidikan yang tadinya merupakan satu-satunya mekanisme bagi masyarakat kebanyakan untuk menaiki tangga hierarki sosial menjadi tidak berguna. Sistem pendidikan pada umumnya dan pendidikan dasar-menengah khususnya, bukannya mengembangkan anakanak, tapi sebaliknya memaksa otak anak-anak mengikuti kurikulum, itu pun hanya untuk mereka yang memiliki kecerdasan analitis dan hapalan. Sebaliknya, anak-anak dengan kecerdasan imajinasi, kreativitas dan kemampuan interpersonal yang bertumpu pada otak kanan tidak mendapat tempat sama sekali. Pendidikan menjadi sesuatu yang kering dan sekadar menciptakan anak-anak sebagai tukang. Padahal, menurut budayawan Irlandia pemenang Nobel Sastra William Butler Yeats, pendidikan bukan soal mengisi ember, melainkan menyalakan api. Air yang begitu deras dituangkan merat...